8 Dosa Lidah (Bagian Dua)

Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam

Ada 8 hal yang harus dihindari oleh lisan
Pada tulisan yang lalu kita telah membahas tiga diantaranya. Ialah:
1. Bohong
2. Ingkar Janji
3. Ghibah


Sekarang yang ke 4. Ialah Bertengkar, Berdebat, membantah ucapan orang lain

Sesungguhnya perdebatan itu dapat menyakitkan hati orang yang didebat karena mungkin saja memperbodoh orang yang bersangkutan atau mencelanya. Sekaligus juga memuji dirinya sendiri karena merasa dia lebih mengerti, lebih cerdas atau lebih pandai

Sikap itu bisa membuat kacau kehidupan bersosial. Karena perdebatan dengan orang bodoh itu membuatmu menyakitinya. Sedangkan perdebatan dengan orang penyabar itu juga akan membuat ia hasad. Dan perdebatan dengan orang yang pintar, itu bisa membongkar kebodohanmu.

Hadits Rasul

“Barang siapa yang meninggalkan perdebatan, kalau ia salah maka akan dibangunkan rumah di pinggir Surga. Dan kalu ia benar, akan Allah bangunkan rumah di Surga yang tinggi.”

Kita pun jangan tertipu oleh setan yang mendorong untuk berdebat. Dengan dalil untuk menegakan kebenaran.

Menegakan kebenaran kepada orang yang mungkin mau menerimanya itu baik, jika itu dilakukan dengan nasihat yang baik. Ialah dengan bicara dari hati ke hati. Japri. Dan dengan lemah lembut.

Tanpa dua itu, itu artinya melecehkan seseorang. Bahkan mungkin mudharatnya lebih besar dari manfaat

Ini juga perlu jadi perhatian ialah menghindari kajian-kajian penuh perdebatan. Karena perdebatan akan menghalangi rahmat Allah.

Yang ke 5
Menganggap diri suci

“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS An Najm 32)

Sesungguhnyanya mengangap diri kita baik adalah keburukan yang paling tercela

Kata orang tua jangan mentang-mentang

Keadaan kita saat ini bukan jaminan.

Keimanan kita dan taqwa kita saat ini bukan jaminan kita akan khusnul khatimah.
Dan kekufuran orang lain sekarang tidak juga menjadi jaminan dia akan suul khatimah

Kadar keimanan tidak ditentukan dengan lama atau sebentarnya mengaji
Bukan juga diukur dengan banyak sedikitnya ilmu
Bisa juga orang yang sudah lama mengaji, imannya setipis kulit bawang. Karena hasil kajian tidak meresap masuk ke hati sanubari.
Bisa jadi juga orang yang kadar ilmunya banyak, imannya lebih tipis dibanding orang yang baru ngaji Qulhu.

Begitu juga ketaqwaan tidak diukur dimana kita ngaji
Tidak mesti seseorang yang mengaji kepada seorang syaikh atau profesor lebih taqwa dibanding dengan orang yang mengaji di mushala kecil sebuah kampung. Tidak ada jaminan

Hadits Nabi
“Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga maka masuklah dia ke dalam syurga.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Bagi yang merasa beriman jangan merasa aman dengan keimanannya.
Dan bagi yang merasa banyak dosa jangan putus asa dengan dosanya.
Belum tentu seorang yang baik dalam pandangan manusia, akan baik juga dalam pandangan Allah

Pertandingan kehidupan belum selesai, kita tidak tahu hasilnya sampai nanti di Pengadilan Besar

Bagi yang merasa banyak Ilmu, jangan remehkan muridmu, bisa jadi suatu hari nanti dia yang akan mengajarkanmu

Adapun yang berkaitnya dengan lisan dari menganggap suci diri sendiri adalah ia sampai memuji diri sendiri

Kata seorang ahli hikmah, hindarilah darimu mengatakan ‘aku’. Karena aku itu perkataan 3 orang
1. Perkataan Iblis ketika ia mengatakan: “aku lebih baik darinya.” (QS Al Aaraf 12)
2. Perkataan Fir’aun ketika ia mengatakan: “akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS An Nazi’at 24)
3. Perkataan Karun ketika ia mengatakan: “sesungguhnya aku mendapatkanya karena ilmu yang ada padaku.” (QS Al Qasas 78)
Wallahu Alam

7 tanggapan untuk “8 Dosa Lidah (Bagian Dua)

  • Maret 19, 2019 pada 12:23 am
    Permalink

    Terkadang meninggalkan perdebatan juga sulit, apalagi kalau merasa bahwa yang disampaikan itu adalah benar. Pandai mengondisikan lidah dan hati.

    Balas
  • Maret 19, 2019 pada 11:16 am
    Permalink

    Faktanya, pun ketika kita bisa menjaga lidah dari perkataan bohong, ia sulit dijaga dari membicarakan keburukan orang lain. Jadi harus banyak-banyak istighfar dan menahan diri, kalau ghibah orang, takutnya nanti di akhirat kelimpungan mencari orang-orang yang pernah di-ghibah-i semasa di dunia. Semoga Allah jauhkan kita dari maksiat-maksiat yang berasal dari lidah.

    Balas
    • Maret 19, 2019 pada 4:54 pm
      Permalink

      Untuk bohong dan ghibah sudah dibahas pada bagian pertama

      Balas
  • Maret 24, 2019 pada 8:07 pm
    Permalink

    Paling mengerikan si gibah menurutku. Zaman sekarang banyak lidah yang ringan mengucap gibah padahal efek dan ancamannya besar. Ampuni kami ya Allah.

    Balas
  • Maret 25, 2019 pada 8:39 am
    Permalink

    Terima kasih banyak Mas sudah diingatkan. Artikel kayak gini emang musti sering dibaca hehe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas