8 Dosa Lidah (Bagian Ketiga)

Masih tentang menjaga lisan.


Ada 8 hal yang harus dihindari oleh lisan
Kemarin sudah 5
1. Bohong
2. Ingkar Janji
3. Gosip
4. Berdebat
5. Memuji diri sendiri
Sekarang yang ke enam

  1. Mengumpat
    “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (QS Al Humazah 1)

Mengumpat adalah hal yang sangat dilarang dalam Islam. Termasuk mengumpat kepada seorang kafir tertentu. Ini dilarang. Tidak boleh kita mengatakan, “dasar Kafir, lu!” atau “dasar kafir! Laknatullah alaika!” karena bisa jadi orang yang kita katakan sebagai kafir, di masa datang akan memperoleh hidayah lalu menjadi beriman.

Sedangkan melaknat orang kafir secara umum tanpa merujuk kepada seseorang adalah dibolehkan. Seperti mengatakan telah kafirlah orang yang mengatakan Allah mempunyai anak. Hal ini tidaklah mengapa dilakukan.

Tentu, apabila mengumpat seorang kafir tertentu adalah terlarang, apalagi mengumpat seorang muslim.Karena Kanjeng Nabi telah bersabda

“Tidaklah seseorang bersaksi atas orang lain bahwa ia kafir kecuali salah satu dari keduanya akan mendapatkannya. Apabila orang itu (yang dituduh) benar-benar kafir, maka hal itu  tepat seperti yang dituduhkannya. Tetapi apabila ia bukan orang kafir, maka ia (yang menuduh) adalah menjadi kafir karena telah mengafirkannya.”

Disebutkan oleh Imam Ghazaly:

Jika ditanyakan oleh seseorang, “bolehkah melaknat Yazid bin Muawiyah karena telah membunuh Al Husain atau telah menyuruh seseorang membunuhnya?”

Maka jawabnya, sesungguhnya itu (perkara Yazid membunuh Al Husain) tidak dapat dibuktikan. Karenanya tidak boleh mengatakan bahwa Yazid telah membunuh Husain atau menyuruh orang membunuh beliau. Sementara seorang muslim tidak boleh dituduh melakukan dosa besar apabila tidak ada bukti yang menguatkan. Apalagi melaknatnya.

Sementara apabila dikatakan bahwa Ibnu Muljam telah membunuh Ali bin Abi Thalib atau Abu Lu’luah telah membunuh Umar, maka ini diperkenankan karena telah terbukti secara mutawatir.

Ketahuilah, bahwa kita di Akhirat tidak akan ditanya, “mengapa engkau tidak melaknat si Fulan?”

Akan tetapi justru yang ditanya adalah, “mengapa engkau melaknat si Fulan?”

Kemudian jangan pula kita mencela apa-apa yang telah diciptakan Allah. Atau mencela seseorang dengan apa yang telah Allah ciptakan. Seperti ‘Hai keledai!’ atau ‘Hai Anying’ ini buruk dari tiga hal. Pertama, bohong. Kedua, menyakiti hati orang. Yang ketiga, mencela ciptaan Allah.

  1. Mendoakan Jelek
    Alangkah baiknya kita menjaga lisan kita dari pada mendoakan orang lain yang jelek-jelek. Walaupun terhadap orang dzalim kepada kita.

Firman Allah

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy Syura 40)

Makna ayat di atas adalah seperti yang disebutkan dalam hadits dari Kanjeng Nabi
“Sesungguhnya orang teraniaya itu dapat mendoakan jelek kepada orang yang menganiayanya, sehingga setimpal dengan kedzaliman si dzalim. Tetapi apabila bencana yang diterima si dzalim itu melebihi batas kedzalimannya, maka si dzalim akan menuntut orang yang berdoa tersebut di hari kiamat.”

Maksudnya kita tidak diperkenankan untuk membalas kejahatan orang lain melebihi dari apa yang kita terima.

Ibnu Sirin rahimahullah pernah berkata
Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang yang memaki maki Al Hajjaj dengan lisannya sebagaimana Allah menyiksa Al Hajjaj karena kedzalimannya.

Dalam riwayat lain, diceritakan bahwa AL Hajjaj penguasa lalim itu telah membunuh sahabat Rasulullah Ibnu Zubair ra lalu menyalibnya. Al Hajjaj juga membunuh seorang tabi’in yang bernama  Said bin Jubair. Setelah kematian Said bin Jubair, Al Hajjaj selalu ketakutan dimana bayangan Tabiin yang mulia ini selalu menghantui hari-hari penguasa lalim ini. Sehingga akhirnya penguasa lalim ini mati enam bulan kemudian.

Karenanya alangkah baiknya kejahatan yang kita terima kita balas dengan mendoakan si Penjahat agar diberikan hidayah Allah, tidak lagi melakukan kejahatan dan menjadi seorang yang senantiasa berbuat baik kepada orang lain.

  1. Bercanda.

Hukum asal dari bercanda adalah boleh. Karena manusia butuh untuk mengendorkan urat syaraf yang tegang. Hal ini karena hidup itu adalah perjalanan yang melelahkan.

Apalagi orang-orang yang beriman. Mereka adalah orang yang paling banyak menghadapi cobaan. Karena tanggung jawab mereka dan orang-orang yang memusuhi mereka.

Tersebut dalam hadits, orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi dan kemudian orang-orang yang meniti jalan seperti mereka

Maka menghibur diri adalah suatu kebutuhan yang niscaya. Otak perlu diajak tertawa, jangan dibawa setres. Maka bercanda adalah sebuah kebutuhan.

Rasulullah adalah orang yang paling sering bergurau.

Pernah Rasulullah bermain kuda-kudaan dengan kedua cucunya Hasan dan Husain. Maka dilihat oleh salah seorang sahabat. Maka kata sahabat itu,”sebaik-baik yang kamu naiki adalah yang kamu naiki berdua.”

Maka jawab Rasul,”sebaik-baik yang naik adalah mereka berdua.”

Maksudnya, kalo lo naek, bisa gempor Rasul

Pernah juga Kanjeng Nabi diundang oleh seorang shahabiah. Bahwa beliau diundang oleh suaminya. Maka kata Rasul,”Ooh… suamimu itu yang ada putih-putihnya di mata, ya?”

Jawab Shahabiah itu,”Bukan Ya Rasulullah. Suamiku gak ada putih-putihnya di mata.”

Lalu jawab Rasul,”Ngaku aja, pasti di matanya ada putih-putih.”

Sahabiah itu tetep keukeuh,”Demi Allah. Tidak ada ya Rasul Allah.”

Maka jawab Nabi,”Tidak ada seorangpun kecuali dimatanya ada putih-puihnya.”

Maksudnya putih-putih yang dipinggir hitamnya bola mata

Rasul Allah juga pernah diminta doa oleh nenek-nenek agar nenek-nenek itu masuk surga.

Maka jawab Rasul,”Di surga mah, gak ada nenek-nenek.”

Si Nenek pun menangis, pupus sudah harapannya masuk Surga.

Maka akhirnya Nabi pun menjelaskan bahwa ketika nenek itu masuk surga, dia akan menjadi muda kembali

Akan tetapi ketika kita bercanda perlu hati-hati. Ada batasan-batasan yang jangan sampai dilanggar. Batasan-batasan itu adalah:

Bercanda tidak boleh mengandung kebohongan.

Contohnya seperti bercanda model April Mop. Atau misalkan kita menyembunyikan barang kesayangan temen, trus ketika ditanya kita jawab gak tahu. Ini bohong. Ini tidak boleh.

Yang kedua. Bercanda ‘ngata-ngatain’ orang. Misalnya kayak lawakan komeng yang ngatain si Adul pentil sepeda. Atau semacam sesi Roasting di Stand Up Comedy. Ini adalah bercanda yang juga terlarang

Firman Allah
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al Hujurat 11)

Dalam hal memanggil dengan sebutan yang jelek, ini harus hati-hati. Tidak mengapa memannggil dengan sebutan yang buruk, asalkan yang dipanggil ridho. Permasalahnya kita tidak tahu hati manusia. Mungkin di depan kita dia terlihat Ridha, tapi dalam hati kita tidak tau. Alangkah baiknya kita panggil dengan sebutan yang baik.

Contoh memanggil sebutan buruk yang sudah diridhai oleh yang dipanggil biasanya kita menyebut seseorang dengan ciri-ciri yang sudah diketahui umum. Seperti Yati Pesek misalkan.

Yang ketiga bercanda itu tidak menakut-nakuti orang yang dibercandain/prank atau mengandung bahaya. Misalkan meninggalkan teman sendirian dikuburan. Kemudian kita gantungin sprei putih di pohon kemboja. Lalu digerak-gerakan.

Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir RA, yang berkata, “Kami pernah berada dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah SAW, maka ada salah seorang yang mengantuk di kendaraannya, kemudian ada orang lain di antara kami yang mengambil busur/anak panah dari tempatnya sehingga orang mengantuk itu bangun dan terkejut, maka Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal bagi seseorang untuk menakut-nakuti seorang Muslim” (HR. Thabrani).

Yang ke empat tidak berlebih-lebihan. Karena bercanda adalah bumbu kehidupan yang apabila kebanyakan akan merusak rasanya.

Seperti perkataan Imam Ali kwh

“Campurlah perkataan itu dengan tawa sebagaimana engkau mencampur makanan dengan garam.”

Yang ke lima lihat tempat. Jangan bercanda di tempat orang meninggal.

Wallahu Alam

6 tanggapan untuk “8 Dosa Lidah (Bagian Ketiga)

  • Maret 31, 2019 pada 6:59 am
    Permalink

    Terkadang kalau sudah bercanda itu bakalan lupa sama pengendalian diri. Semoga terhindar dengan hal yang disengaja seperti ini. Tapi, untuk memanggil seseorang dengan nama buruk, sebaiknya dihindari, meski terkesan panggilan akrab.

    Balas
  • April 1, 2019 pada 2:36 pm
    Permalink

    Paling sering terjemus buat bohong itu kalau lagi bercanda, harus menjaga diri betul biar gak dosa. Trims informasinya.

    Balas
  • April 2, 2019 pada 4:00 pm
    Permalink

    Canda versi Rasulullah cerdas ya, bukan kaleng kaleng, wah dalam kisah Rasulullah aja candaannya bikin ketawa gimana ketemu Rasulullah langsung ya, MasyaAllah

    Balas
  • April 7, 2019 pada 11:28 pm
    Permalink

    Terimaksih sudah selalu menuliskan tulisan seperti ini kang, nasihat untuk kami semua

    Balas
  • April 8, 2019 pada 7:00 am
    Permalink

    Ijin copas yang ini ya..
    “Campurlah perkataan itu dengan tawa sebagaimana engkau mencampur makanan dengan garam.”
    Boleh mint nama lengkap Imam Ali kwh

    Balas
    • April 8, 2019 pada 9:30 am
      Permalink

      Silakan. Imam Ali bin Abi Thalib kwh (karamallahu wajhahu)

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas