8 Dosa Lidah (Bagian Pertama)

Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam

Allah menciptakan lidah untuk banyak berdzikir, membaca Al Quran, berdakwah amar maruf nahi mungkar, dan berkata dengan perkataan yang baik. Tapi apabila kita tidak menggunakannya dengan baik, itu artinya kita tidak dapat mensyukuri salah satu nikmat Allah ini. Karena itu jagalah lidahmu. Karena lidah itu bisa jadi biang dosa

Lidah adalah anggota tubuh yang paling dominan dan berharga terhadap dirimu. Banyak orang tergelincir ke neraka karena lidahnya. Termasuk ketikanmu di media sosial. Karena itu jagalah ia sekuat-kuatnya

Rasul Allah saw ditanya tentang penyebab terbesar masuk neraka. Dan beliau menjawab 2 lubang. Maksudnya mulut dan lubang kemaluan

Karena itu jagalah lidahmu dari 8 perbuatan

  1. Bohong

Jagalah lisanmu dari berbohong, baik itu serius atau bercanda. Sebab walaupun bercanda, ditakutkan ada yang menanggapinya serius. Padalahal bohong adalah biangnya dosa dan kejahatan.

Tidak ada suatu kejahatan yang tidak dikerjakan kecuali pelakunya berbohong

Ada kisah zaman Rasul. Yaitu ketika seseorang mau masuk Islam. Dia bilang mau masuk islam tapi shalat gak mau, puasa gak mau, zakat juga gak mau.

Lalu kanjeng Nabi cuma berpesan kepadanya jangan berbohong. Dan mualaf itu menyanggupi.

Suatu ketika mualaf itu pergi mencuri. Maka dilihatlah oleh orang orang dapat dari mana barang tersebut. Padahal barang itu adalah barang curian

Galaulah mualaf ini. Ia teringat pesan Rasul disuruh jangan berdusta.

Lalu diceritakanlah bahwa barang itu hasil mencuri

Akibatnya babak-belurlah dia.

Dampak lain dari berbohong adalah tidak dipercayanya mulutmu oleh orang lain.

Kerbau dipegang hidungnya, manusia dipegang ucapanya

Ini namanya integritas. Integritas hilang, hilanglah harga dirimu

  1. Ingkar Janji

Perbuatan yang kedua yang harus dihindari adalah ingkar janji. Jangan kita berjanji tetapi kemudian mengingkarinya.

Alangkah baiknya kalau mau berbuat baik kepada orang lain, dilakukuan secara diam-diam. Diam-diam berniat akan memberi, kemudian tiba-tiba memberi.

Itu lebih baik

Tetapi kalaa terpaksa janji, berhati-hatilah. Niatkan 100% untuk menunaikan janji itu. Kecuali karena kehendak Allah. Ucapkanlah Insya Allah.

Tapi Insya Allah ini jangan dijadikan penyebab engkau mengingkari janjimu. Jadi Insya Allah ini 99% mesti terjadi. Kecuali Allah berkehendak lain

Ada 3 tanda munafik: berkata dusta, ingkar janji dan dipercaya khianat

  1. Ghibah

Dosa lidah yang ketiga adalah Ghibah

Dalam Islam, orang yang melakukan perbuatan ghibah tersebut, dosanya lebih besar daripada tiga puluh orang pezina.

Sabda Nabi:

“Ghibah itu lebih keras daripada zina.” Mereka bertanya: “Bagaimana ghibah lebih keras dari zina, wahai Rosululloh?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang telah berzina, kemudian bertaubat dan Allah pun mengampuni dosanya, sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Alloh, hingga orang yang di-ghibah-nya mengampuninya.”(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Apa ghibah itu?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?”, para Shahabat berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam berkata, “(yakni) Engkau menyebut saudaramu dengan apa yang dia tidak suka”. Ada yang berkata: “Lantas bagaimana menurutmu jika pada diri saudaraku itu memang kenyataannya seperti yang aku katakan?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam berkata, “Jika pada saudaramu itu kenyataannya seperti yang engkau katakan, maka sungguh engkau telah berlaku ghibah, namun jika yang kamu katakan itu tidak ada, berarti engkau telah berbuat buhtan kepadanya.”

Imam Nawawi menyebutkan yang dimaksud dengan Buhtan adalah sesuatu yang keji

Untuk para Ustadz, hindarilah mengghibah secara halus

Yaitu, misalnya engkau nyatakan maksudmu secara tidak langsung dengan berkata, “Semoga Allah memperbaiki orang itu” atau “sungguh tindakannya sangat buruk padaku” atau  “kita meminta kepada Allah agar Dia memperbaiki kita dan dia.”

Di sini terkumpul dua hal yang buruk, yaitu gibah (karena dari pernyataanya kita bisa memahami hal itu) dan merasa bahwa diri sendiri bersih tidak bersalah.

Tetapi jika kita mau mendoakannya alangkah baiknya kalau kita doakan dalam hati. Itu menunjukkan kita tidak mau menunjukan aibnya.

Kalau engkau menampakkan dukamu karena aibnya, berarti engkau sedang membuka aibnya.

Ingat firman Allah

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al Hujurat 12)

Dalam ayat diatas ngegosip/ghibah = makan bangkai saudaranya

Sebelum  kita ngomongin orang, bertanyalah kedalam diri

  1. Lihatlah pada dirimu, apakah dirimu itu mempunyai aib, baik yang tampak secara lahiriah maupun yang tersembunyi?
  2. Apakah engkau sudah meninggalkan maksiat, baik secara rahasia maupun terang-terangan?

Untuk pertanyaan pertama

Kalo kita sadar sama kekurangan kita, ketahuilah bahwa ketidakbardayaan seseorang untuk menghindari perbuatan aib, itu sama dengan ketidakberdayaan kita untuk menghindari maksiat. Sementara kita gak suka aib kita diobral kemana-mana, begitu juga orang lain sama gak sukanya apabila aibnya diobral kemana-mana.

Dan Allah akan menutupi aibmu, apabila kita mau menutupi aib orang lain

Tetapi apabila kita membuka aib orang lain. maka Allah akan membongkar aib kita bukan saja di akhirat, tapi juga didunia. Dan apabila engkau tidak melihat aibmu, maka ketahuilah itu jahil murrakab.

Bodoh sebodoh bodohnya manusia.

Tidak ada kebodohan yang melebihi ketidak tahuan seseorang terhadap kekurangan dirinya sendiri.

Sebab, jika Allah menginginkan kebaikan bagimu, niscaya Dia akan memperlihatkan aib-aibmu kepadamu.

Al-Imam an-Nawawi t berkata, “Ghibah dibolehkan dengan tujuan syariat yang tidak mungkin mencapai tujuan tersebut melainkan dengannya.”

Dibolehkan ghibah pada enam hal:

  1.    Ketika terzalimi.
  2.    Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran.
  3.    Meminta fatwa.
  4.    Memperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan atau untuk menasihati mereka.
  5.    Ketika seseorang menampakkan kefasikannya.
  6.    Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu.

(Riyadhus Shalihin, bab “Apa-apa yang Diperbolehkan untuk Ghibah”)

3 thoughts on “8 Dosa Lidah (Bagian Pertama)

  • Maret 4, 2019 pada 10:06 pm
    Permalink

    Menjaga lidah itu adalah hal berat, karena memang terlalu dekat dengan kezaliman. Dihati-hati pun, masih saja ada yang terselip. Setidaknya, kita pasti mencoba minimalisirkan.

    Balas
  • Maret 5, 2019 pada 7:52 am
    Permalink

    Duh, merinding bacanya secara nggak sadar suka ghibah juga walau hanya melihat akun gosip di medsos, Astaghfirullah..terima kasih remindernya Mas

    Balas
  • Maret 10, 2019 pada 9:25 pm
    Permalink

    Setuju. Lidah adalah bagian yg lemah tapi perkataan yg timbul melewatinya bisa merubah apa saja. Lidah digital jg perlu dijaga, agar sama baiknya dg lidah di dunia nyata.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas