Berinteraksi dengan Al Quran (Bagian 1)

Pada tulisan yang lalu telah disebutkan tentang mengakrabi Al Quran. Bahwa Al Quran itu perlu dibaca, dipelajari dan diamalkan. Pada tulisan kali ini akan kita bahas bagaimana cara berinteraksi Al Quran.

Cara berinteraksi Al Quran adalah dengan membacanya. Sedangkan kewajiban bagi para pembaca Al Quran adalah dengan memperhatikan adabnya.

Perlu dipahami  bahwa Al Quran bukanlah kitab biasa. Al Quran adalah Kalam Allah. Maka berinteraksi dengan Al Quran artinya adalah berinteraksi dengan Allah. Karena itu membaca Al Quran dengan Adab adalah suatu yang niscaya.

Berikut adalah Adab lahiriyah berinteraksi dengan Al Quran.

  1. Hendaknya bersiwak dan berwudhu dahulu sebelum membacanya.
  2. Menghadap Kiblat
  3. Membaca Mushaf
  4. Dimulai dengan Ta’awudz
  5. Membacanya dengan Tartil.
  6. Jika dikhawatirkan riya, membacanya dengan lirih. Tetapi jika tidak, lebih baik dengan lantang
  7. Melagukan Al Quran dengan suara merdu.
  8. Berusaha meresapi makna ayat ayatnya.

Selain Adab lahiriyah, tentu ada juga adab batin. Imam Al Ghazali menyebutkan ada sepuluh adab bathin dalam berinteraksi dengan Al Quran.

Kesepuluh adab tersebut adalah: Ta’zhimul Kalam, Ta’zhimul Mutakalimin, Tahdhirul Qalb, Tadabbur, Tafahum, menghindari penghalang pemahaman, Takhsish, Ta’atstsur, Taraqqi dan Tabarri.

  1. Ta’zhimul Kalam

Adab batin yang pertama adalah memahami keagungan dan ketinggian firman. Al Quran adalah Kalam Allah. Tentu sangat jauh berbeda antara Kalam Allah dengan kalam makhluq. Maka yang pertama, hendaknya hati tunduk di hadapan Kalam yang mulia tersebut.

Resapilah kasih sayang Allah melalui petunjuk yang Allah turunkan dari Lauh Mahfudz sampai kepada kita tersebut. Petunjuk pelita untuk menjalani hidup dan kehidupan.

  1. Ta’zimul Mutakalimin

Pada saat kita membaca Al Quran, hendaknya hati kita mengagungkan Allah. Ketahuilah bahwa yang ia baca adalah bukanlah kata-kata manusia. Itu adalah Firman Allah. Maka seyogyanyalah kita mengagungkan Allah.

Bacalah Al Quran dengan hati yang bersih. Karena Al Quran itu adalah Kalam suci. Maka kita akan beroleh manfaat ketika kita suci lahir batin.

Sebagaimana firman Allah “Innahu laqur’anun-Karim, fi kitabin maknun, laa yamassuhu illa muthaharun”.

“Sungguh ini adalah benar-benar Al Quran yang mulia, pada kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci.” (QS Al Waqi’ah 56: 76-79)

Sebagaimana tidak setiap tangan dapat menyentuh mushaf Al Quran, tidak setiap lisan dapat membacanya, maka begitupula, tidak setiap hati dapat memperoleh makna-makna Al Quran. Karena itu bukalah tabir makna Al Quran dengan hati yang bersih, yang tawadhu dan tunduk dihadapan Rabb Penguasa Alam yang Amat Pemurah dan Penuh Kasih Sayang.

Ketahuilah, sesungguhnya Al Quran memiliki makna yang berlapis-lapis. Sebagaimana kerang yang memiliki cangkang, daging dan yang paling dalam adalah mutiara. Maka semakin bersih hati, akan semakin mendalami makna-makna Al Quran.

Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa mengagungkan Allah tidaklah mungkin dilakukan seandainya kita tidak mengenal-Nya.

Kenalilah Allah! Tuhanku dan Tuhanmu!

Tuhan Yang Satu! Tak beranak dan diperanakan. Mengurus alam semesta sedirian. Mengatur makhluk tanpa bantuan. Laisa kamitslihi syai.

Kenalilah kekuasaan-Nya yang meliputi langit dan bumi. Seluruh makhluq dalam genggaman-Nya. Tidak dapat seluruh makhluk berkumpul dari golongan jin, manusia dan malaikat, orang yang sekarang, terdahulu dan akan datang, bersekutu untuk member mudharat atau manfaat kepada-Nya. Bahkan nasib seluruh makhluk berada dalam Qudrat dan Iradat-Nya. Dia bersifat Jaiz. Allah berhak berbuat apapun yang dikehendakinya. Allah berhak memberi nikmat bagi hamba-Nya sebagai karunia-Nya. Allah juga berhak member siksa kepada hamba-Nya sebagai bukti keadilan-Nya.

Maka bayangkanlah keagungan Allah.

Semoga kita dapat menghadirkan keagungan Kalam dan Mutakalimin.

3. Tahdhirul Qalbu

Adab batin yang ketiga dalam berintekaksi dengan Al Quran adalah Tahdhirul Qalbu. Kehadiran Hati.

Maksudnya dalam berinteraksi kepada Al Quran, kita harus focus kepada Al Quran saja. Kita harus konsentrasi penuh dalam membacanya dan mengarahkan perhatian hanya kepadanya. Buanglah suara-suara yang muncul kedalam kepala kita.

Fokus!

Dan Konsentrasi!

Kaum Salaf jika membaca satu ayat tetapi  hatinya tidak bersama dengan ayat itu, maka mereka mengulangi membacanya.

Sungguh sikap ini lahir dari sikap mengagungkan Kalam dan Mutakalimin. Orang yang menhormati seseorang lain, pasti akan memberikan perhatian penuh terhadap seseorang yang dihormatinya itu. Dia akan mendengarkan setiap kata, intonasi dan juga bahasa non verbal yang diungkapkan oleh orang yang dihormatinya itu. Maka orang yang menghormati Al Quran, akan dengan asyik berinteraksi dengannya. Seperti pecinta yang tidak mau kehilangan moment dengan yang dicintainya.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah firman Allah

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al A’raaf 7; 204)

4. Tadabbur

Kemudian yang ke empat adalah Tadabbur.

Ialah berfikir tentang kandungannya. Ia adalah sesuatu yang lebih dari sekadar kehadiran hati. Karena bisa jadi ia hanya membacanya saja, tetapi tidak memikirkan isi kandungannya.

Bukankah kita telah berkomitment untuk menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidup? Lalu bagaimana mungkin kita dapat menjadikannya pedoman hidup, kalau seandainya kita tidak mengerti isi dan kandungannya?

Sungguh, orang-orang yang mau untuk menadabburi/mempelajari Al Quran adalah orang-orang yang hidup dan terbuka hatinya.

“Maka apakah mereka tidak menadabburi Al Quran, atau hati mereka terkunci?” (Qs Muhammad 47;24)

Imam Ali kwh pernah berkata:

Tidak ada kebaikan dalam beribadah tanpa pemahaman, tidak ada kebaikan dalam membaca tanpa tadabbur di dalamnya.

Tadaburilah Al Quran. Jika tidak dapat mentadaburi suatu ayat, maka ulangilah membacanya (kecuali apabila ia menjadi makmum shalat). Sebagaimana kaum salaf dalam mentadabburi Al Quran. Ada diantara mereka yang membuka suatu surat lalu terhenti oleh sebagian apa yang mereka dapati dalam ayat tersebut, sehingga tidak selesai sampai terbit fajar. Ada juga diantara mereka yang tidak menganggap berpahala, ayat yang mereka baca apabila mereka tidak memahami ayat itu.

Rasulullah pernah dalam suatu shalat jamaah membaca satu ayat dan mengulang-ulanginya. Ayat tersebut adalah:

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs Al Maidah 5; 118)

5. Tafahum

Yang kelima adalah Tafahum. Yaitu berusaha memahami ayat Al Quran secara tepat.

Untuk melakukannya, munculkan pertanyaan: ‘Apakah hikmah yang dapat diambil dari ayat ini?’ Apa maksud Allah dengan menginformasikan tentang sifat-sifat-Nya, nama-nama-Nya? Juga tentang nabi-nabi terdahulu? Hikmah apa yang dapat kita petik dari celaan tentang orang-orang yang berdosa, kaum Nabi Luth? Juga tentang hari Kiamat, Surga dan Neraka?

“Iqra bismi Rabbikal ladzii khalaq. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan!”

Bacalah! Analisalah! Tetapi bukan sembarang baca dan bukan juga sembarang analisa. Tetapi  bacalah dengan nama Tuhanmu. Gunakan pisau Analisa Ilahiyah.

Berjuanglah sekuat tenaga untuk memahami maksud Allah ketika menurunkan ayat itu.

Misalkan ketika disebutkan tentang penciptaan alam semesta. Mengapa Allah menciptakannya dalam enam masa? Bukankah Allah mampu untuk menciptakannya secara Kun Fayakun? Hikmah apa yang dapat kita ambil dari informasi ini?

Lalu ketika Al Quran menceritakan kejadian perkembangan janin? Bagaimana janin itu berkembang dari sebuah sel? Lalu membelah diri. Menjadi darah, daging dan sel-sel lainnya. Menjadi fetus.  Menjadi janin yang kian hari makin terbentuk sempurna. Membentuk kepala, tangan, kaki, jari-jari, mata, telinga, hidung, jantung, hati dan lain-lain. Ada apa dibalik semua keajaiban itu?

Pahamilah!

Dan Berfikirlah!

3 tanggapan untuk “Berinteraksi dengan Al Quran (Bagian 1)

  • Oktober 20, 2018 pada 5:02 am
    Permalink

    Al-Quran memang diperuntukkan utk orang2 yg berpikir. Jika tidak berpikir, Al-Quran pasti tidak akan bisa dipahami.

    Balas
  • Oktober 22, 2018 pada 4:26 am
    Permalink

    Banyak yang belum sepenuhnya berinteraksi dengan al-quran sehingga langkahnya di kemudian hari menjadi tak terarah

    Balas
  • Oktober 23, 2018 pada 9:06 pm
    Permalink

    Bagus banget artikelnya mas, kehadiran harlti itu penting banget ya nggak asal baca,, aku bintangin semoga bisa dipraktekkan nuhuun..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas