Lewat ke baris perkakas

Berinteraksi dengan Al-Quran (Bagian 3)

Kita telah membahas tentang 6 adab tilawah. Yaitu Ta’zhimul Kalam, Ta’zhimul Mutakalimin, Tahdhirul Qalb, Tadabbur, Tafahum, menghindari penghalang pemahaman. Maka sekarang kita akan masuk kepada adab berikutnya

Yang ketujuh adalah takhshish. Yaitu menyadari bahwa dirinya adalah sasaran yang dituju oleh setiap ayat Al Quran.

Jika ia mendengar ayat perintah,  maka perintah itu untuknya.

Jika ia mendengar ayat larangan, maka yang dilarang adalah dirinya.

Jika ia mendapat cerita umat-umat terdahulu, maka itu adalah pelajaran untuknya.

Jika Allah mencela umat-umat terdahulu, maka celaan itu juga  untuknya apabila berkelakuan sama dengan apa yang Allah celakan.

Seseorang yang membaca Al Quran adalah orang yang diajak bicara oleh Allah. Allah memberinya petunjuk melalui Al Quran. Bagaimana mungkin ia mengabaikannya?

“Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah . Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(Qs Al Baqarah 231)

Hendaknya ketika kita mencari dan membaca ayat Al Quran, jangan hanya untuk mencari dalil atau bahan ceramah semata. Atau juga sebagai bahan debat untuk memenangkan hawa nafsu. Atau juga menjatuhkan orang lain.

Sementara kita abai terhadap tindak dan kelakuan diri kita sendiri.

Mulailah dari diri sendiri.

Al Quran itu untuk kita! Para pembacanya. Maka kita mesti menjadi orang pertama yang mengamalkannya.

Yang kedelapan adalah Ta’atsur. Yaitu membekas. Maksudnya adalah hatinya terimbas secara berbeda sesuai ayat yang dibacanya. Apabila pemahamannya baik, maka rasa takut akan mendominasi hatinya. Karena ia mengetahui bahwa tidak ada penyebutan rahmat atau ampunan, kecuali dengan syarat-syarat yang berat.

Seperti surat Thaha ayat 82

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.”

Jelas terlihat bahwa dalam ayat ini, ampunan Allah hanya bagi orang-orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, dan istiqamah di jalan yang benar.

Sungguh dengan perenungan yang dalam, pemahaman yang mantap, maka hati akan jadi lembut.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”(Qs Al Anfal 2)

Al Hasan berkata : “Demi Allah pada hari ini, tidaklah seorang hamba membaca Al Quran dengan meyakininya, kecuali pasti akan banyak bersedih, sedikit gembira, banyak menangis, sedikit tertawa, letih dan sibuk, sedikit istirahat dan menganggur.”

Karena itu kunci mengimbaskan Al Quran ke dalam hati adalah tidak lain dengan memahami ayat-ayatnya.

Apabila dia membaca ayat ancaman atau pembatasan ampunan maka ia akan lemas takut. Apabila dia membaca ayat tentang Allah, maka hatinya akan tunduk seraya mengakui keagungan Allah. Apabila dia membaca tentang kelakuan orang kafir, maka dirinya malu dan mengingkari kelakuan itu. Apabila dia diberitakan dengan sorga, maka menjadi semangatlah ia. Tetapi apabila diberitakan tentang neraka, maka gemetarlah badannya.

Al Quran itu adalah penjelasan bagi tanda-tanda kekuasaan dilangit dan dibumi. Maka barang siapa yang membaca  ayat-ayatnya, tetapi tidak terpengaruh ke dalam hatinya, maka ia termasuk orang yang berpaling dari ayat-ayat Allah itu.

Seumpama ahli maksiat yang rajin membaca Al Quran secara kontinu, tetapi kemaksiatannya terus terulang. Maka ia termasuk orang yang ‘melempar Al Quran ke belakang punggungnya’.

Terakhir, berikut adalah kita seorang Qari’ yang membacakan Al Quran dihadapan gurunya. Lain waktu ia membacakannya lagi.

Lalu tegur gurunya,”Pergilah! Engkau menjadikan Al Quran sebagai amal kepadaku. Pergilah! Bacakan kepada Allah!”

Demikianlah, pembacaan Al Quran bukanlah pekerjaan lisan semata. Tetapi pembacaan Al Quran adalah perkerjaan lisan, akal dan hati secara simultan. Lisan bertugas membaca dengan tartil, akal menerjemahkan maknanya, sedangkan tugas hati adalah mengambil pelajaran dan menghayati segala perintah dan larangannya.

Yang kesembilan adalah Taraqqi. Ialah meningkatkan pemahaman sampai seolah-olah ia mendengarkan langsung dari Allah.

Derajat bacaan itu ada tiga:

  1. Yang paling rendah setidaknya seorang hamba membaca seolah-olah di hadapan Allah dan Allah mendengarkannya.
  2. Seorang hamba membaca seolah-olah Allah melihatnya, mengajak berbicara dengan berbagai taufiq-Nya, memanggilnya dengan berbagai nikmat dan kebaikan-Nya.
  3. Seorang hamba membaca seolah-olah ia melihat Mutakalimin dalam huruf-hurufnya, dan melihat sifat-sifat-Nya dalam setiap kalimat yang ada sehingga ia tidak melihat diri-Nya dan bacaan-Nya.

Seperti kata-kata Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq: “Demi Allah, Allah telah menampakan diri kepada makhluk-Nya di dalam kalam-Nya, tetapi mereka tidak melihat-Nya.

Begitu juga perkataan kaum bijak: “Aku pernah membaca Al Quran, tetapi tidak merasakan kelezatannya. Lalu aku membaca seolah-olah aku mendengar dari Rasulullah kepada sahabatnya. Kemudian kutingkatkan lagi seolah-olah dari Jibril. Terakhir aku atas taufik Allah, aku membacanya seolah-olah mendengarkannya langsung dari Allah. Barulah aku merasakan kelezatannya.

Yang kesepuluh adalah Tabarry. Ialah ia merasakan dirinya tidak punya kekuatan apa-apa. Jika ia membaca firman tentang sanjungan dan janji Allah untuk orang yang shaleh, maka ia merasa tidak termasuk golongan itu. Seraya berharap semoga Allah segera memasukannya kepada golongan orang-orang shaleh tersebut. Jikalau ia membaca ayat-ayat tentang ancaman Allah terhadap orang-orang yang bermaksiat, maka ia merasa dirinya yang dimaksud oleh ayat tersebut. Lalu minta ampun sebanyak-banyaknya.

Seperti Syair Abu Nawas. Dia merasa tak pantas ke surga, tetapi juga takut akan nerakannya Allah.

Maka ia merasa amalnya masih sangat kurang. Dan merasa belum pernah berbuat apa-apa. Sementara dosanya kian hari makin menggunung. Maka bagaimanakah dia harus bersikap? Kecuali memohon ampun sama Allah dan memperbaikin amal shalehnya?

Subhanallah. Astaghfirullah.

3 thoughts on “Berinteraksi dengan Al-Quran (Bagian 3)

  • November 1, 2018 pada 5:11 pm
    Permalink

    Setiap kali mendengar ayat2 Al-Quran hati bergetar. Rasanya kadang ingin menangis. Ya Allah, semoga kita semua bisa selalu dekat dengan Al-Quran.

    Balas
  • November 1, 2018 pada 6:53 pm
    Permalink

    Semoga kita selalu diingatkan untuk membaca Al Qur’an.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *