Berinteraksi dengan Al-Quran (Bagian 2)

Pada tulisan yang lalu telah dipaparkan mengenai lima adab tilawah. Sekarang kita akan bicarakan adab tilawah berikutnya. Yaitu menyingkirkan penghalang pemahaman.

Kebanyakan manusia, tidak dapat memahami  makna-makna Al Quran disebabkan adanya penghalang pemahaman yang dipasangkan didalam hatinya. Dalam hal ini ada empat penghalang pemahaman.

Pertama terpaku terhadap ilmu Tajwid dan terkonsentrasi kepada makharijul huruf.

Dalam hal ini sebenarnya tidak salah. Melagukan dan membaca Al Quran dengan tartil adalah juga suatu kewajiban. Maka pembaca Al Quran perlu membekali dirinya dengan ilmu Tajwid.

Firman Allah: “Bacalah Al Quran dengan tartil.” (Qs Muzammil 73: 4)

Akan tetapi hanya puas dengan sebuah kewajiban, sementara mengabaikan kewajiban yang lain adalah sikap yang kurang bijaksana.

Seperti sebuah ungkapan: “If better is possible, good is not enough; If best is possible, better is not enough.”

Maka tadabbur adalah sebuah keniscayaan.

Yang kedua adalah larut dengan dosa dan dunia.

Pada tulisan terdahulu disebutkan bahwa hanya orang yang disucikan yang dapat memahami makna-makna Al Quran. Maka jelas bahwa kita perlu menghampiri Al Quran dengan hati yang suci.

Sebagaimana firman Allah “Innahu laqur’anun-Karim, fi kitabin maknun, laa yamassuhu illa muthaharun”.

“Sungguh ini adalah benar-benar Al Quran yang mulia, pada kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci.” (QS Al Waqi’ah 56: 76-79)

Sebagaimana tidak setiap tangan dapat menyentuh mushaf Al Quran, tidak setiap lisan dapat membacanya, maka begitupula, tidak setiap hati dapat memperoleh makna-makna Al Quran. Karena itu bukalah tabir makna Al Quran dengan hati yang bersih, yang tawadhu dan tunduk dihadapan Rabb Penguasa Alam yang Amat Pemurah dan Penuh Kasih Sayang.

Yang ketiga adalah presepsi.

Yang ini agak sulit. Karena kita dituntut untuk memandang Al Quran dengan pikiran terbuka. Kita tidak boleh berpatokan, apalagi fanatik dengan mahzab yang kita anut. Tanpa berusaha untuk melihat dengan prespektif yang baru.

Seperti banyak terjadi pada golongan-golongan yang sesat. Misalkan pada paham Islam liberal yang dasarnya adalah salah satunya adalah mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks. Sehingga dalam penafsirannya banyak yang bertentangan dengan teks-teks yang muhkamat.

Sebuah kesimpulan akan benar, apabila penalarannya sah dan premisnya juga benar. Maka dalam memahami Al Quran, kita perlu membereskan presepsi-presepsi yang ada terlebih dahulu. Seperti zhan, tradisi, ataupun budaya pemikiran masyarakat.

Tentang zhan

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.” (Qs Al Hujurat 49; 12)

Tentang tradisi

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah.” Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (Qs Luqman 31; 21)

Yang keempat adalah berpatokan hanya pada tafsir zhahir dan menganggap tafsir yang lain adalah tafsir hawa nafsu. Sementara orang yang menafsirkan Al Quran dengan hawa nafsunya, layak menyediakan pantatnya dineraka.

Padahal telah dijelaskan bahwa Al Quran memiliki makna yang berlapis-lapis. Karenanya sikap tawazun (setimbang) diperlukan dalam hal ini.

Berikut kisah tentang Umar bin Khatab dalam menafsirkan surat An Nashr.

Suatu hari Umar bin Khatab ra. mengundang para sahabat untuk suatu masalah. Selain itu beliau juga mengundang seorang anak dalam musyawarah itu.

Melihat hal ini para sahabat protes kepada Umar, mengapa ia juga mengundang seorang anak dalam musyawarah itu.

Maka Umar bin Khatab membaca surat An Nashr lalu bertanya kepada para sahabat mengenai maknanya.

Lalu dijawablah oleh para sahabat bahwa makna surat An Nashr itu adalah perlunya untuk bertasbih atas nama Tuhan dan banyak beristighfar setelah diperoleh kemenangan.

Lalu Umar bertanya kepada anak itu,” Wahai anak, bagaimana menurutmu makna surat ini?”

Maka jawab sang anak, ”Apabila telah datang pertolongan Allah  dan kemenangan. Maka tak lama lagi Rasulullah akan wafat. Surat ini adalah salah satu tanda akan segera wafatnya Rasulullah.”

Kemudian jawab Umar,”Engkau benar wahai Anak.”

Dan nama anak itu adalah Abdullah bin Abbas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas