Bisnis Kurma Abu Dahdah ra

Ada seorang lelaki yang memiliki sebuah pohon kurma. Akan tetapi pohon kurmanya itu menjorok ke rumah tetangganya yang seorang anak yatim.

Suatu hari ia melihat anak yatim itu memungut kurma yang jatuh dihalamannya. Lalu memakannya.

Hal ini membuat si laki-laki tersebut marah.

“Wahai bocah! Mengapa engkau memakan kurmaku?” hardik lelaki itu.

“Kurma ini jatuh di pekaranganku,” jawab anak yatim itu.

Lelaki itu marah, lalu memukul si Yatim.

Akhirnya si Yatim melaporkan hal ini kepada Kanjeng Nabi SAW.

Maka dipertemukan keduanya. Dan Rasul Allah SAW menawarkan solusinya.

“Wahai lelaki, maukah engkau berikan pohon kurma itu kepada saudaramu? Lalu sebagai gantinya engkau akan memperoleh Surga.”

“Ya Rasulullah, itu adalah pohon kurmaku satu-satunya,” jawab si laki-laki.

Rasulullah terdiam. Karena lelaki itu telah menolak Surga. Apakah tawaran yang lebih hebat dari surga?

Lalu ketika lelaki itu telah berlalu, bertanyalah Abu Dahdah, ”Ya Rasulullah, apakah tawaran yang kau berikan kepada lelaki itu, berlaku juga bagiku? Maksudnya apabilah aku memberikan pohon kurma itu, kepada si Bocah, apakah aku akan mendapat Surga?”

“Ya.” Jawab Rasulullah.

Maka beranjaklah Abu Dahdah untuk menemui lelaki itu.

Kemudian ketika Abu Dahdah telah menemui lelaki itu, berkatalah Abu Dahdah,” wahai sahabat, aku akan membeli pohon kurmamu.”

“Tapi itu pohon kurmaku satu-satunya Abu Dahdah,” tukas lelaki itu.

“Aku akan membelinya seharga kebunku. Bukankah engkau mengetahui bahwa dalam kebunku ada sebuah sumur, sebuah rumah tempatku tinggal dan 500 batang pohon kurma?”

Maka berbinarlah mata lelaki itu. Dan katanya, “baiklah Abu Dahdah. Aku menyetujui perniagaan ini.”

Dan transaksi itupun terjadilah dengan disaksikan orang-orang di hadapan Rasulullah saw.

Kemudian Abu Dahdah berkata kepada si Anak Yatim. “Sekarang pohon  kurma itu telah menjadi milikmu, wahai Bocah.”

Lalu Abu Dahdah bertanya kepada Kanjeng Nabi, ”Ya Rasulullah apakah ada pohon kurma untukku di Surga?”

Jawab Rasul, ”Berapa banyak bagian pohon kurma yang menghasilkan buahnya sendiri? Dan berapa banyak bagian ini untuk Abu Dahdah di surge.”

Jawaban itu terus diulangi Rasulullah sampai Abu Dahdah pergi

Ternyata Abu Dahdah pulang. Ia menuju ke kebunnya. Dan dari luar kebunnya itu maka berteriaklah ia.

“Wahai Istriku, keluarlah. Kemasilah barang-barang kita. Kebun ini bukan milik kita lagi. Aku telah menjualnya kepada seorang sahabat.”

Istrinya pun segera mengemasi barang-barangnya dan keluar kebun.

Lalu tanya Istrinya, “mengapa engkau menjual kebun kita dan seisinya.”

“Aku telah menukarnya dengan sebuah pohon kurma di Surga” jawab sang suami seraya menceritakan kronologis perniagaannya.

“Allahu Akbar,” seru sang istri. “Betapa beruntungnya perniagaan kita ini suamiku.”

Lalu sang Istri mulai menggeledah kantong anak-anaknya lalu mengumpulkan kurma-kurma yang tersisa.

“Ini bukan milik kita lagi. Sekarang ini adalah milik Allah.”

9 tanggapan untuk “Bisnis Kurma Abu Dahdah ra

  • September 17, 2018 pada 12:45 pm
    Permalink

    Masya Allah.. Susah banget yg begini ini

    Balas
  • September 17, 2018 pada 1:10 pm
    Permalink

    Wah, jadi ingat tadi dikasih kurma ama pak haji yang baru pulang. Belum dimakan.

    Balas
    • September 18, 2018 pada 5:15 am
      Permalink

      Makanlah. Sayang kalo gak dimakan

      Balas
  • September 17, 2018 pada 2:37 pm
    Permalink

    Ceritanya inspiratif ya.
    Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapun bahwa harta dunia tak ada nilainya dengan harta di akhirat, surga.

    Mantap, izin save ceritanya ya.

    Balas
    • September 18, 2018 pada 5:14 am
      Permalink

      Aamiin.
      Silakan kalau mau di save

      Balas
  • September 18, 2018 pada 6:50 am
    Permalink

    Subhanallah. Ini adalah cerita yang pas untuk menggambarkan betapa tertutupnya mata orang yang pelit. Dan begitu terangnya hati orang-orang yang mendapat hidayah.

    Balas
  • September 18, 2018 pada 10:59 pm
    Permalink

    Terharu banget bacanya..perniagaan beruntung sekali..

    Balas
  • September 19, 2018 pada 3:50 am
    Permalink

    Masya Allah. Suka lho kalo baca blog ini selalu dapat hikmah hehe. Makasih artikelnya!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas