Fiksi Mini dalam Khasanah Literatur Islam

Flash Fiction adalah cerita singkat, bahkan lebih ringkas dari Cerpen.

Mertoyono dan Suryaman(2006: 17) mendefinisikan Flash Fiction sebagai:

“Fiksi mini merupakan bentuk penceritaan yang terasa pendek. Dengan kata kunci rasa, maka tidak ada konsekuensi logis yang jelas mengenai flash fiction berdasarkan misalnya batasan kata. Dalam hal ini flash fiction menawarkan bentuk lain dalam dunia tulis menulis, yang mengutamakan kepiawaian pengolahan kata seminim mungkin untuk menghasilkan efek sedramatis mungkin.”

 

Jadi, tidak ada ukuran baku berapa kata sebuah cerita tersebut dapat dikategorikan sebagai cerita kilat.

Sementara itu juga Cerpen menurut Edgar Allan Poe memiliki karekateristik sebagai berikut:

  •       Harus pendek. Rampung dibaca sekali duduk menunggu bis.
  •       Menciptakan efek tunggal dan unik (satu tokoh utama, satu tema dll)
  •       Harus ketat dan padat, mengarus pada efek ekonomis.
  •       Mampu meyakinkan pembaca bahwa ceritannya nyata.
  •       Menimbulkan kesan selesai [Syahidah(2005)]

Dari paparan diatas jelas agak sulit untuk membedakan antara Flash Fiction dengan Cerpen kecuali dalam jumlah katanya. Dimana jumlah kata ini juga tidak menjadi patokan dalam menentukan apakah sebuah tulisan itu disebut Flash Fiction atau bukan.

 

Dalam khazanah literatur Islam, banyak terdapat cerita-cerita yang sangat pendek. Biasanya cerita-cerita ini, berkembang melalui tuturan-tuturan dalam kajian. Walaupun ada juga terdapat dalam beberapa Kitab Turats.

 

Berikut beberapa contoh ‘flash fiction’ yang dapat ditemui dalam literatur Islam.

 

Cerita I

Al Kisah Ibrahim bin Adham bertemu dengan Syaqiq Al Balkhiy.

Bertanya Ibrahim bin Adham, ”Apa yang pertama kali kau temui di sini?”

Jawab Syaqiq, “Aku menemukan seekor burung yang patah sayapnya ditanah lapang. Lalu aku duduk memperhatikan burung tersebut. Kemudian aku bertanya dalam hatiku,’darimana burung ini memperoleh makanan?’ Tak lama kemudian, aku melihat seekor burung dengan belalang diparuhnya datang mendekat. Lalu belalang itu diletakan ke paruh burung yang patah sayapnya.”

Syaqiq berhenti sejenak. Sementara Ibrahim bin Adham masih menunggu kelanjutan ceritanya.

Lanjut Syaqiq, ”Aku membatin, ‘Sesungguhnya Dzat yang memberikan rizki kepada burung patah sayap itu, pasti mampu memberikan juga rizki kepadaku.’ Maka sejak itu aku meninggalkan pekerjaanku dan tenggelam dalam Ibadah.

Lalu Ibrahim bin Adham berkata, ”Mengapa engkau tidak menjadi burung yang memberi makan burung yang sakit itu? Tentu keadaanmu lebih utama.”

 

Cerita 2

 

Pada suatu  hari Imam Ahmad bin Hambal diundang oleh tetangganya. Kemudan Imam Ahmad mendatangi tetangganya itu.

Sesampainya dirumah tetangganya itu, ia di usir.  Maka pulanglah Imam Ahmad.

Hari lainnya beliau diundang kembali oleh tetangganya tersebut. Maka kembali datanglah Imam Ahmad.

Namun kejadian kemarin terjadi lagi. Imam Ahmad kembali diusir.

Akan tetapi Imam Ahmad tidak marah. Ia pulang sambil tersenyum.

Kali berikutnya kembali Imam Ahmad diundang oleh tetangganya itu. Dan sekali lagi Imam Ahmad mendatangi tetangganya itu. Kali ini pun beliau di usir juga. Dan dengan hati legowo, Imam Ahmad juga pulang.

Ketika ditanya oleh tetangganya tersebut mengapa Imam Ahmad tidak marah diperlakukan demikian. Imam Ahmad menjawab, ”Aku hanya menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Yaitu untuk memenuhi undangan tetanggaku ketika diundang dan segera kembali ketika disuruh pulang. Tidak ada hubungannya denganmu. Urusanku adalah kepada Allah. Sedangkan urusanmu juga kepada Allah.”

 

Cerita 3

Nabi Yaqub as. bersahabat dengan Izrail

Suatu hari Izrail datang berkunjung.

Bertanyalah Nabi Yaqub, “Wahai Izrail, apakah kedatanganmu ini sekadar bertamu, ataukah akan mencabut nyawaku?”

“Aku hanya bertamu saja,” jawab Izrail.

“Baiklah,” seru Nabi Yaqub. “Aku punya permintaan penting. Beri tahu aku apabila engkau akan mencabut nyawaku atau ajalku sudah dekat.”

“Baiklah,” jawab Izrail. “Aku akan mengirimkan dua atau tiga utusan.”

Kali lain, Izrail datang kembali menemui Nabi Yaqub.

Bertanyalah Nabi Yaqub, “Wahai Izrail, apakah kedatanganmu ini sekadar bertamu, ataukah akan mencabut nyawaku?”

“Aku akan mencabut nyawamu,” jawab Izrail.

“Bukankah engkau berjanji akan mengirimkan dua atau tiga utusan kepadaku?” tanya Nabi Yaqub.

“Benar!” jawab Izrail. “Dan aku telah melaksanakannya. Putihnya rambutmu setelah hitamnya. Lemahnya badanmu setelah kuatnya. Dan bungkuknya tubuhmu setelah tegarnya. Itulah utusanku, wahai Yaqub.”

8 tanggapan untuk “Fiksi Mini dalam Khasanah Literatur Islam

  • September 2, 2019 pada 10:05 pm
    Permalink

    Membuat cerita yang panjang, penuh pesan, dan dalam batasan kata yang singkat. Itu tantangan dalam membuat fiksimini, dan kadang jadi terlalu panjang saat selesai menulisnya.

    Balas
    • September 3, 2019 pada 5:43 am
      Permalink

      setelah itu di edit. Potong bagian yang tak perlu

      Balas
  • September 3, 2019 pada 8:28 am
    Permalink

    apa ya apa ya apa ya? Bagus sih, banyak hikmahnya. Tapi belum berani menyebutnya fiksi mini, tar banyak yg kesurupan. bahkan nulis yg benar2 fiktif pun ada yg salah mikir, ah dunia!

    Balas
  • September 4, 2019 pada 10:05 am
    Permalink

    Cerita di atas termasuk fiksi mini ya? Tapi sarat hikmah dan pembelajaran jadi seperti kisah nyata.

    Balas
    • September 4, 2019 pada 3:19 pm
      Permalink

      Masalahnya kisah-kisah tersebut agak sulit dilacak sanad-nya. Kita (saya) belum tahu apakah kisah tersebut shahih atau tidak. Ada apakah ada bukti sejarah atau sumber rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan, saya belum tahu. Kalaupun ada sumber rujukkan paling ada dalam kitab-kitab ulama semacam Kitab Ihya Ulumuddin atau semacamnya.
      Sementara kisah-kisah yang diperoleh dari Hadits Rasulullah saw tentu tidak dapat dikatakan Fiksi Mini. Karena apa yang Rasulullah sabdakan adalah wahyu dari Allah.

      Balas
  • September 5, 2019 pada 1:07 pm
    Permalink

    Flash fiction itu pendek sekali. Rasanya masih ingin membaca, eh sudah ending saja.

    Balas
  • September 5, 2019 pada 4:44 pm
    Permalink

    Ya, sejak kecil suka banget baca fiksi mini kisah-kisah Islam itu. Banyak penulis fiksi yang kemudian mengembangkannya lagi sehingga menjadi cerita yang panjang. Kang Abik salah satunya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas