Hormati Ulama

Atau Ulama hanya lebai-lebai yang dipanggil datang, disuruh pergi, ditengah berhenti? Dan kalau rapat akan ditutup dia bisa dipanggil: ”Kiyahi! Baca do’a!”

Demikianlah yang dikatakan HAMKA. Bagaimana kita memperlakukan Ulama. Hanya bertugas membaca doa tanpa dijadikan rujukan utama.

Mungkin hal tersebut adalah wajar bagi orang-orang yang awam dari nilai-nilai agama. Akan tetapi menjadi tidak pantas bagi orang-orang yang mengklaim untuk kembali kepada Al Quran dan As Sunnah.

Ada sebagian diantara mereka yang merasa cukup hanya ‘Al Quran’ dan ‘As Sunnah’. Kerap kali mereka mempertentangkan antara ‘Al Quran’ dan ‘As Sunnah’ dengan pendapat ulama. Tak jarang mereka menolak pendapat Ulama apabila pendapat tersebut tidak sesuai dengan pemahaman Al Quran atau pemahaman As Sunnah mereka.

Pernyataan cukup dengan Al Quran dan As Sunnah saja secara retorika terlihat baik, akan tetapi sesungguhnya sangat berbahaya. Hakikatnya mereka tak ubahnya dengan kaum Liberal yang memahami Al Quran dan As Sunnah berdasarkan hawa nafsunya.

Padahal ada berbagai masalah yang harus dihadapi untuk sampai kepada memperoleh pemahaman Al Quran dan As Sunnah yang benar.

Karenanya mereka harus berterima kasih kepada para ulama yang telah membuat mereka lebih mudah sedikit memahami Al Quran dan As Sunnah.

Awalanya pada masa Rasulullah saw, Al Quran ditulis secara ‘berserakan’ diberbagai media. Misalkan pada potongan-potongan tulang unta, pelepah-pelepah kurma, kulit kayu atau kulit binatang, dan sebagainya.

Pasca pertempuran Yamamah banyak para hufudz yang syahid, sehingga menimbulkan kekhawatiran-kekhawatiran akan hilangnya Al Quran dimuka bumi. Karenanya, atas usulan Umar bin Khattab ra, dikumpulkanlah ayat-ayat tersebut dalam sebuah mushaf.

Tidak mudah tim para sahabat ini dalam menyusun ayat-ayat Al Quran yang berserakan ini menjadi suatu mushaf. Mereka harus mengkonfirmasi antara hafalan beberapa shahabat dengan sumber bukti tertulis yang ada pada masa Rasulullah. Sehingga akhirnya ditemukanlah surat At Taubah ayat 129 dari catatan Abu Khuzaimah Al  Anshary ra.

Permasalahan berikutnya adalah masalah dialek Al Quran. Perbedaan masalah bacaan juga telah menimbulkan permasalahan yang serius bagi bangsa-bangsa non arab. Karenanya Amirul Mukminin Umar bin Khatab ra sangat marah ketika Ibnu Mas’ud ra mengajarkan Al Quran dengan dialek Hudail (bukan dialek Quraisy) kepada penduduk Irak.

Setelah pengumpulah Al Quran selesai, pada masa Utsman bin Affan ra, tak serta merta masalah pembacaan Al Quran selesai. Mushaf Utsman tidak disertai pembatas surah, tanda huruf maupun harakat. Tentu ini juga masih menimbulkan masalah tersendiri bagi bangsa non Arab dalam mempelajarinya.

Karena itu kita harus berterima kasih kepada Abu Al Aswad Ad Du’ali (wafat 69 H) yang telah meyusun risalah tentang tata Bahasa Arab termasuk membuat tanda-tanda diakritika seperti fathah, kasrah, dhamah, fathah tanwin, kasrah tanwin dan dhamah tanwin. Termasuk juga tanda titik untuk membedakan huruf nun, ba, ta, tsa atau sin dengan syin.

Pekerjaan ini kemudian disempurnakan oleh murid-muridnya yaitu Yahya bin Yamar (w 90 H), ‘Ashim Al Laitsi (w 100 H) sampai kepada Khalil Ahmad Al Frahidy (w 170  H).

Cara pembacaan Al Quran bukan satu-satunya kendala dalam memahami Al Quran bagi orang Arab apalagi non Arab.

Faktor lain adalah Bahasa Al Quran adalah Bahasa tingkat tinggi yang belum tentu dipahami oleh orang awam di kalangan arab. Seperangkat ilmu-ilmu lain diperlukan untuk benar-benar memahami Al Quran.

Begitu juga untuk memahami As Sunnah.

Kita harus bisa memastikan bahwa Hadits Nabi yang diterima adalah benar-benar berasal dari Nabi saw. Padahal hadits nabi yang kita terima itu tersebar dari mulut ke mulut. Tidak ada jaminan bahwa hadits yang kita dapat bisa dipastikan berasal dari Nabi, tanpa usaha yang tidak mengenal lelah dari para ulama.

Pertama kita patut berterima kasih kepada Imam Malik yang telah melakukan penelitian terhadap 4000 hadits Rasul Allah dan disusun dalam Kitab yang bertajuk Al Muwatha.

Kemudian kita tidak dapat mengenyampingkan Imam Ramahurmuzy yang telah menyusun serangkaian metode untuk menguji derajat Hadits Rasul Allah saw. Sehingga kita dapat mentukan apakah Hadits itu diyakini benar-benar dari Rasul Allah, sedikit diragukan, diragukan atau diyakini palsu.

Berikutnya kita juga berterima kasih kepada enam Imam Hadits yang telah melakukan kodifikasi terhadap hadits-hadist sehingga dengan mudah kita dapat menemukan dalam kitab-kitab yang mereka tulis.

Karena itu tundukkah hatimu dihadapan mereka. Tersebab orang berilmulah kita menjadi mengerti.

 

Maraji

  1. Ash Shabuny, Muhammad Ali, At Tibyan Fi Ulumil Qur’an, M Chudari (Ed) Al Ma’arif Bandung 1984.
  2. Al A’zami, MM, Prof. Dr, The History of the Quranic Text from Revelation to Compilation, Gema Insani Press 2005
  3. Hassan, A Qadir, Ilmu Mushthalah Hadits, CV Diponegoro Bandung 1982

8 tanggapan untuk “Hormati Ulama

  • Agustus 13, 2018 pada 3:59 am
    Permalink

    Jadi ingat broadcast-an yang mempermasalahkan Insya Allah dengan Inshaa Allah..

    Banyak yang menelan mentah-mentah saja tanpa menelaah transliterasi bahasanya sendiri..

    Balas
    • Agustus 13, 2018 pada 4:46 am
      Permalink

      Ya. Padahal itu hanya masalah gaya selingkung

      Balas
  • Agustus 14, 2018 pada 1:52 am
    Permalink

    Wajib hormatlah sebab dari mereka kita belajar banyak ilmu dan pengetahuan

    Balas
  • Agustus 15, 2018 pada 6:34 am
    Permalink

    Benar sekali. Kita harus menghormati para ulama. Tulisannya harus dimaknai dengan baik agar ulama dapat di posisi seharusnya.

    Balas
  • Agustus 16, 2018 pada 3:29 am
    Permalink

    Duh, terharu banget bacanya. Apa yang kita baca sekarang adalah perjuangan banyak ulama kita dalam mengumpulkannya..

    Balas
    • Agustus 16, 2018 pada 4:48 am
      Permalink

      Memang demikianlah. Kita tidak mungkin mengenal Islam tanpa perjuangan mereka semua

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas