Istiqamah

Allah swt berfirman

“Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan” QS Hud 112

Ayat ini adalah ayat yang paling berat.

Ibnu Abbas rhuma menceritakan

Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini. Oleh karena itu, ketika beliau ditanya, ‘Betapa cepat engkau beruban’, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sahabatnya, “Yang telah membuatku beruban adalah surat Hûd dan surat-surat semisalnya”

Mengapa Surat Hud ayat 112 adalah ayat paling berat?

Karena dalam ayat tersebut ada perintah Istiqomah.

Menurut Imam Nawawi : Istiqomah adalah tetap dalam ketaatan sampai waktu diwafatkan

Sedangkan menurut Ibnu Rajab : Istiqamah adalah menapaki jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, tanpa berbelok-belok ke kanan dan ke kiri.

Jadi pengertian Istiqamah adalah tetap dalam ketaatan tanpa berbelok-belok ke kanan dan ke kiri sampai waktu diwafatkan.

Dan sekali lagi sebagai penekanan, tampak jelas sulit dan beratnya beristiqomah yang terwujud dengan melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla secara kontinyu, padahal manusia mengalami pasang-surut keimanan dan menghadapi berbagai macam fitnah duniawi yang sangat berpotensi melunturkan semangat beristiqomah.

Istiqamah itu berat, kalo ringan namanya istirahat

Namun konsistensi dalam kebenaran itu memiliki ganjaran yang sangat besar.

Firman Allah

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (ber-istiqâmah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan oleh Allâh kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Qs Fushilat 30-32)

Dari ayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa balasan orang yang istiqamah adalah

Akan didampingi oleh Malaikat sehingga jauh dari rasa gegana. Gelisah galau dan merana.

Akan dilindungi oleh Malaikat dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Akan memperoleh surga

Karenanya istiqamah adalah sesuatu yang harus diusahakan dan dilakukan bukan hanya karena ganjarannya yang besar. Akan tetapi juga besar bahayanya apabila keistiqamahan ini tidak dilaksanakan.

Hal ini karena orang yang tidak istiqamah akan mendapatkan tiga bahaya

Pertama sering tidak sadar akan keterpelesetan dirinya. Ketika amal-amal yang kita lakukan tidak secara konsisten mungkin kita anggap remeh, lambat laun atau lama-lama tidak kita kerjakan lagi. Hal ini mungkin karena kesibukan dunia melalaikan kita.

Kedua hilangnya kenikmatan ibadah.

Ketiga semakin kerasnya hati yang menyebabkan sulitnya menerima nasihat.

Karena itu keistiqamahan itu perlu kita usahakan.

Berikut ini adalah cara-cara agar kita bisa Istiqamah.

Pertama mintalah pertolongan kepada Allah

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki oleh Allâh kesesatannya, niscaya Allâh akan menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (QS Al Anam 165)

Dari ayat ini jelas bahwa Allahlah Yang Maha Pemberi Petunjuk dan Penolong. Tanpa pertolongan Allah kita akan sulit Istiqamah.

Akan tetapi jadikan Hadits Qudsi berikut sebagai pegangan
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”

Kedua niat atau tekad yang kuat untuk senantiasa memperbaiki diri dan tawakal kepada Allah

Firman Allah

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS Ali Imran 159)

Ketiga Mengetahui Fadhilah/Keutamaan Amal

Mengetahui manfaat Amal adalah salah satu motivasi agar kita mampu untuk beristiqamah. Karenanya menuntut Ilmu agama atau ngaji adalah salah satu yang wajib kita lakukan.

Sungguh kita harus berkeyakinan bahwa perintah Allah dan Rasul-Nya  itu memiliki Fadhilah yang tiada tara.

Contoh
Sesungguhnya Rasul Allah Saw pernah bersabda : “Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun mereka harus merangkak.”

Keempat Mujahadah yaitu berjuang untuk melaksanakan Ibadah sebaik-baiknya

Memaksakan diri untuk ibadah adalah hal yang seharusnya kita lakukan

Firman Allah
“Dan orang-orang yang berjihad(bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. 29 Al-Ankabut : 69)

Hadist Nabi
“Kita baru kembali dari perang kecil akan menghadapi perang besar. Para Shahabat bertanya : Ya Rasulullah apakah perang besar itu? Rasulullah  menjawab: “Perang melawan nafsu”.

Kelima Intropeksi/Muhasabah

Intropeksi diri juga adalah cara yang digunaka untuk kita mampu istiqamah

Firman Allah

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Al Hasyr 18)

Makna memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok adalah intropeksi diri sejauh mana amal-amal yang telah kita lakukan.

Keenam jangan menambah porsi ibadah secara ekstrim.

Dari Abi Abdurrahman as-Sulami, ia berkata, “Para pembaca Alquran –semisal Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dll- bercerita kepada kami bahwa mereka belajar dari Rasulullah 10 ayat. Mereka *tidak menambahnya* sampai memahami makna kandungannya dan mengamalkannya. Mereka berkata, ‘Kami mempelajari Alquran; memahaminya, sekaligus mempraktikkannya’

Jadi intinya tambahlah ibadah kita sedikit demi sedikit jangan langsung banyak. Sampai ibadah tersebut telah menjadi kebiasaan barulah ditambah lagi lebih banyak. Demikian seterusnya.

Ketujuh jangan tinggalkan ibadah yang pernah kita kerjakan

Hadits Nabi
Diriwayatkan dari ‘Abdullâh bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallamberkata kepadaku, “Wahai ‘Abdullâh! Janganlah kamu seperti si Fulan, dulu dia mengerjakan shalat malam kemudian dia meninggalkannya.”

Walaupun dalam hadits ini disebutkan shalat malam, akan tetapi ini berlaku untuk semua ibadah. Jangan sampai ibadah kita terbengkalai dan hilang satu persatu.

Lebih baik jadi bekas penjahat dari pada bekas Ustadz.

Ingat, bahwa yang menjadi tuntutan adalah kebersinambungan dalam mengerjakan suatu amalan, meskipun amalan itu sedikit, bukan banyaknya.

10 tanggapan untuk “Istiqamah

  • September 24, 2019 pada 2:52 am
    Permalink

    “Karena sebaik-baik amalan itu adalah berkesinambungan, meski sedikit.”
    Seringkali, sesi muhasabah terlewatkan dengan menambah porsi ibadah dengan ekstrem secara mendadak. Padahal nggak bagus, baik dari segi kesempurnaan pemahamannya juga perilaku kita, akhirnya. MasyaAllah, terima kasih ilmunya.

    Balas
  • September 24, 2019 pada 10:12 am
    Permalink

    Benar, isiqamah itu tidak mudah. Bata waktunya hingga kita mati. Ada banyak godaan, mulai dari jenuh dan perasaan terkekang, dan menderita. Semoga kita bisa selalu istiqamah dalam kebaikan. Amin.

    Balas
  • September 24, 2019 pada 11:13 am
    Permalink

    Istiqomah juga bisa kita artikan secara garis besar terhadap hal-hal yang sederhana, misal kyak Istiqomah makan tepat waktu, atau Istiqomah melakukan kegiatan yang mana berdampak positif juga ke kita.
    Semoga saya bisa Istiqomah selalu ya, contohnya ngeblog.. hehehe

    Balas
  • September 25, 2019 pada 8:32 am
    Permalink

    Memulai dan mengakhiri memang mudah, tetapi mempertahankan semangat itu yang menjadi sulit atau berat untuk dilakukan

    Balas
  • September 25, 2019 pada 9:14 am
    Permalink

    Lebih baik jadi bekas penjahat daripada bekas ustadz. Berattt

    Balas
  • September 25, 2019 pada 9:17 am
    Permalink

    Lebih baik jadi bekas penjahat daripada bekas ustadz. Beratttt

    Balas
  • September 25, 2019 pada 8:24 pm
    Permalink

    save dulu, bisa buat bahan pekanan nih! mudah2an bisa dipraktikkan

    Balas
  • September 26, 2019 pada 9:59 am
    Permalink

    Iya, benar. istiqomah harus terus menerus, tidak boleh berhenti meski hanya sekejap saja. terimakasih ilmunya! Sangat bermanfaat untuk cemilan hati.

    Balas
  • September 26, 2019 pada 1:01 pm
    Permalink

    Berubah, hijar mungkin mudah. Namun yang sulit adalah istiqomah dengan jalan yang sudah kita pilih itu

    Balas
  • September 26, 2019 pada 2:54 pm
    Permalink

    Aamiin ya Rabb.. yang paling sulit memang menjaga kontinuitas ya..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas