Lima Kisah Pengendor Urat Syaraf

SATU

Diriwayatkan bahwa punggung Rasulullah SAW pernah ditunggangi oleh kedua cucunya Hasan dan Husain ketika masih kecil. Beliau dan kedua cucunya menikmati tanpa rasa berat. Ketika itu ada salah seorang sahabat yang masuk dan melihat pemandangan itu.

Maka sahabat itu berkata, ..”Sebaik-baik yang kamu naiki adalah yang kamu naiki berdua.”

Nabi SAW berkata, “Sebaik-baik yang naik adalah keduanya.” (Maksudnya Rasul kalo lo naek gempor die).

DUA

Umar mengatakan kepada budaknya, “Aku diciptakan oleh Pencipta orang-orang mulia, dan engkau diciptakan oleh Pencipta orang-orang durhaka!”

Ketika Umar melihat budaknya sedih karena kata-kata itu, maka Umar menjelaskan dengan mengatakan, “Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan orang-orang mulia dan orang-orang durhaka kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.”

TIGA

Nu’aiman itu tidak masuk ke Madinah sekejap mata pun kecuali ia membeli sesuatu darinya, kemudian membawanya ke Rasulullah SAW kemudian ia berkata, “Ini aku hadiahkan untukmu (wahai Rasulullah SAW).”

Ketika pemiliknya datang ingin meminta uang kepada Nu’aiman, maka orang itu dibawa kepada Nabi SAW Nu’aiman berkata, “Wahai Rasulullah SAW berikan kepada orang ini uangnya (harga barangnya).”

Maka Nabi berkata, “Bukankah kamu telah menghadiahkan kepadaku?”

Nu’aiman berkata, “Demi Allah, saya tidak mempunyai uang (untuk membelinya), tetapi saya ingin engkau memakannya, maka Rasulullah SAW tertawa, dan memerintahkan untuk memberikan uangnya kepada pemilik (barang)nya.”

EMPAT

Makhrumah bin Naufal telah mencapai usia 115 tahun, maka ia berdiri di masjid ingin kencing, sehingga para sahabat berteriak, “Masjid! Masjiiiid!”

Maka Nu’aiman bin ‘Amr menuntunnya dengan tangannya, kemudian ia membungkuk dengan membawa orang itu ke bagian lain dari masjid. Setelah itu Nu’aiman berkata kepadanya, “Kencinglah di sini.”

Serta merta para sahabat berteriak lagi: “Masjid! Masjiid!”

Dan Makhrumah dengan marah berkata, “Celaka kalian! Siapakah yang membawaku ke tempat ini?”

“Nu’aiman,” ujar para sahabat

Makhrumah berkata, “sungguh jika aku bertemu dengannya, aku akan memukulnya dengan tongkatku!”

Akhirnya berita itu sampai pada Nu’aiman. Nu’aiman pun bersembunyi. Beberapa hari kemudian ia mendatangi Makhrumah di masjid. Sementara Utsman bin Affan sedang shalat di bagian pojok masjid.

Kemudian Nu’aiman berkata kepada Makhrumah, “Apakah kamu menginginkan Nu’aiman?”

Makhrumah menjawab, “Ya.”

Lalu Nu’aiman menuntunnya sehingga berhenti di hadapan Utsman (yang sedang shalat), dan Utsman kalau shalat tidak pernah menengok.

Nu’aiman berkata. “Di depanmu itu Nu’aiman.”

Maka Makhrumah memukulkan tongkat itu kepada Utsman sehingga Utsman pingsan.

Serta merta para sahabat berteriak kepadanya, “Apakah engkau tega memukul Amirul Mukminin?”

LIMA

Abu Bakar As-siddiq RA pernah keluar berdagang ke Bushra satu tahun sebelum Nabi SAW wafat. Bersama Abu Bakar adalah Nu’aiman dan Suwaibith bin Harmalah, kedua-duanya pernah ikut perang Badar.

Saat itu Nu’aiman membawa bekal makanan, maka Suwaibith berkata kepadanya, “Berilah aku makan.

Nu’aiman berkata, “Tidak, hingga datang Abu Bakar RA.”

Suwaibith berkata, “Ingat, demi Allah aku akan benar-benar marah kepadamu.”

Ketika mereka berjalan melewati suatu kaum, Suwaibith berkata kepada kaum itu, “Apakah kalian mau membeli budak dariku?”

Mereka berkata, “Ya, mau.”

Suwalbith berkata, “Tetapi budakku itu doyan ngomong, dan dia akan berkata kepadamu, “Saya merdeka,” karena itu jika ia mengatakan demikian maka biarkanlah, dan jangan kalian rusak budakku.”

Mereka menjawab, “Kita beli saja dari kamu.”

Suwaibith berkata, “Belilah dengan sepuluh qalaish, ”

Maka kaum itu datang dan meletakkan di leher Nu’aima sorban atau tali, dan Nu’aiman berkata, “Sesungguhnya ia (Suwaibith) itu menghina kamu, karena aku adalah orang yang merdeka dan bukan budak,”

Mereka berkata, “Dia (Suwaibith) telah memberi tahu kepadaku tentang engkau.”

Lalu kaum itu membawa Nu’aiman.

Sampai saat datangnya Abu Bakar RA, maka Suwaibith memberitahu kepadanya perihal Nu’aiman, lalu Abu Bakar mengikuti mereka dan mengganti uang sepuluh qalaish dan mengambil kembali Nu’aiman.

Ketika datang ke hadapan Nabi SAW mereka pun menceritakannya, maka Nabi tersenyum, demikian juga para sahabatnya karena kisah ini, selama satu tahun.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan lbnu Majah)

6 tanggapan untuk “Lima Kisah Pengendor Urat Syaraf

  • Agustus 27, 2019 pada 8:56 am
    Permalink

    suwaibith pinter ya! haha. btw aku gak ngerti yg pertama

    Balas
  • Agustus 27, 2019 pada 12:42 pm
    Permalink

    Kisah yang inspiratif. Kisah yang nomer dua mengaajrkan kesamaan dan kesetaraan antara manusia.

    Entah itu orang lemah atau orang kuat.

    Balas
  • Agustus 28, 2019 pada 12:06 pm
    Permalink

    Lima cerita di atas menunjukkan bahwa humor itu boleh dalam Islam. Bahwa Nabi juga menyenangkan dan tidak kaku.

    Balas
  • Agustus 29, 2019 pada 5:23 am
    Permalink

    Masyaallah… Para sahabat kalau becanda itu berani juga ya. Dan itu menjadikan kehidupan mereka menarik, banyak bisa diambil contoh. Rasul juga menanggapinya dengan tersenyum

    Balas
  • Agustus 29, 2019 pada 11:13 am
    Permalink

    Humor-humor para pendakwah memang terkesan tidak lucu, padahal itu adalah humor cerdas yang lucu, tapi juga sekaligus menyampaikan ilmu di baliknya.

    Balas
  • Agustus 29, 2019 pada 7:45 pm
    Permalink

    Senyum dulu… Bercanda itu boleh asal jangan berlebihan…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas