Menelusuri Sejarah Valentine Day

Kita telah menapaki bulan Februari. Bulan Februari dikenal sebagai bulan cinta karena pada bulan inilah terdapat Hari Valentine yang diterjemahkan sebagai Hari Kasih Sayang. Hari Valentin yang jatuh pada tanggal 14 Februari ini dikenal sebagai hari mengungkapkan kasih sayang bagi sepasang kekasih. Umumnya mereka mengungkapkan kasih sayangnya dengan berkirim coklat Valentine. Sementara tradisi bertukar kartu Valentine dimulai pada kisaran abad ke-19.

Latar belakang Hari Valentin ini adalah berasal dari tradisi Romawi kuno yang dinamakan Hari Lupercalia yang jatuh pada tanggal 14 Februari.

Hari perayaan Lupercalia adalah sebuah festival keagamaan Romawi Kuno yang dimaksudkan untuk mencegah roh jahat, memurnikan kota dan meningkatkan kesuburan. Perayaan ini dirayakan untuk menghormati Dewa Lupercus. Dewa Lupercus adalah Dewa Kesuburan atau ada juga yang menyebut Dewa Hutan yang berbadan setengah manusia dan setengah kambing. Selain itu juga festival ini diselenggarakan untuk mengingat pendirian kota Roma oleh Remus dan Romulus, sepasang anak muda yang dibesarkan oleh srigala.

Dalam perayaan itu rakyat berkumpul di sebuah kuil di bukit Palatine dimana terdapat sebuah gua Lupercus, tempat dimana Remus dan Romulus dibesarkan. Pada festival ini kaum wanita menuliskan nama mereka dan menaruhnya di kotak undian. Kemudian kaum pria mengambilnya. Lalu mereka akan menjadi pasangan dan bercinta selama festival itu berlangsung. Bahkan juga mungkin akan terus walaupun festival sudah selesai.
Pada tanggal 15 Februari para imam Lupercalian akan mengadakan persembahan berupa pemotongan 2 ekor kambing dan seekor anjing untuk meminta kesuburan kepada Dewa Lupercus.

Kulit binatang korban ini kemudian dijadikan pecut untuk kesuburan. Caranya adalah pecut-pecut itu dibawa oleh 2 orang lelaki yang telah diurapi dahi mereka dengan darah korban. Kemudian mereka keluar dan berlari di sepanjang kota. Sementara para gadis dan perempuan muda serta ternak-ternak dibawa keluar ke jalan-jalan, menunggu si pembawa pecut itu lewat. Ketika si pembawa pecut tersebut lewat, maka wanita dan ternak-ternak tersebut menerima pecutan dengan maksud agar janin mereka menjadi subur.

Perayaan ini terus hidup sampai abad V Masehi. Pengaruh ajaran Kristen tidak serta merta mampu menghapuskan tradisi pagan ini. Adalah Paus Gelasius yang mengubah perayaan Lupercalian ini menjadi hari St Valentine. Paus mencoba menghapus perayaan bidaah ini dengan konsep dan nama baru.

Perayaan Hari Kasih Sayang versi Paus Gelasius adalah hari kasih sayang untuk menghormati Santo Valentine.

Santo Valentine adalah seorang Pastor di Roma pada masa Kaisar Claudius II.

Pada masa kaisar ini terjadi perang besar, karenanya sang Kaisar mewajibkan dilaksanakannya wajib militer. Akan tetapi wajib militer ini ditentang keras oleh masyarakat. Alasannya adalah karena mereka sudah berkeluarga dan tidak mau terjadi hal-hal buruk bagi keluarga mereka dikemudian hari. Selain itu ada juga yang beralasan karena dalam waktu dekat mereka akan melaksanaan pertunangan atau menikah.

Tentu saja Kaisar murka mendengar alasan ini. Maka atas dasar itulah Kaisar mengeluarkan larangan adanya pertunangan dan pernikahan dan semua rakyatnya harus mengikuti wajib militer.

Adalah seorang pastor dari sebuah biara kecil di Roma yang secara diam-diam memberikan pemberkatan pernikahan bagi pasangan-pasangan yang ingin menikah dan menyembunyikan sertifikatnya dengan baik. Hal ini terus berlanjut sampai akhirnya rahasia ini terbongkar dan didengar Kaisar.

Kaisar murka. Kemudian Pastor yang bernama Valentine itu dijebloskan ke dalam penjara.

Terjadi pergolakan di masyarakat, menuntut dibebaskannya Pastor Valentine.

Akhirnya Kaisar menjatuhkan hukuman mati bagi si Pastor. Dan hukuman mati tersebut dilaksanakan tepat pada tanggal 14 Februari 270.

2 tanggapan untuk “Menelusuri Sejarah Valentine Day

  • Februari 10, 2019 pada 3:55 pm
    Permalink

    Wah baru tahu aku kalau begini sejarahnya, semoga banyak dibaca generasi muda ya so mereka gak perlu banget merayakannya, makasih sharingnya yaa..

    Balas
  • Februari 10, 2019 pada 6:20 pm
    Permalink

    Ternyata ini sejarahnya, anak milenial kudu tahu ini agar Gak sesat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas