Menentukan Awal Bulan (New Moon)

Akhir-akhir ini beredar sebuah broadcast yang menyebutkan Hari Raya Idhul Adha jatuh pada hari Selasa 22 Agustus 2018.  Hal ini berdasarkan kepada hasil keputusan Mahkamah Ulya Arab Saudi yang menetapkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada hari Minggu 12 Agustus 2018, sehingga Senin 21  Agustus jamaah Haji wukuf di ‘Arafah dan Hari Raya Idhul Adha jatuh pada keesokan harinya.

Hal ini tentu sah-sah saja apabila tidak disertai dengan kalimat “ternyata Idhul Adha bukan Hari Rabu tanggal 22 Agustus 2018 seperti yang tertera di kalender-kalender Indonesia.”

Berbeda dengan kalender Julian (Masehi) yang telah pasti aturan penanggalannya, kalender Hijriah menentukan awal bulan dengan melihat (rukyat) bulan. Selain itu awal hari pada tanggal hijriah bukan dimulai pada jam 12.00 tengah malam akan tetapi dimulai sejak masuk terbenamnya matahari.

Penentuan awal bulan berdasarkan melihat bulan ini dapat menyebabkan keputusan yang tidak sama pada tempat yang berbeda seperti contohnya di Arab Saudi dan Indonesia. Hal ini karena terjadinya perbedaan waktu pada dua tempat yang berbeda tersebut.

Ada 3 metode yang berbeda dalam menentukan awal bulan pada kalender Hijriah

  1. Metode Ijtima’ Qabla Ghurub(Hisab)

Metode ini menentukan bahwa awal bulan terjadi apabila konjungsi terjadi sebelum Maghrib. Konjungsi terjadi apabila posisi bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis astronomi. Apabila Konjungsi terjadi sebelum waktu maghrib, maka hari berikutnya adalah bulan baru.

  1. Metode Wujudul Hilal(Hisab)

Hampir mirip dengan metode Ijtima’ Qablal Ghurub. Namun metode ini menambahkan persyaratan bahwa ketinggian hilal harus positif yaitu antara 0 sampai 2 derajat.

  1. Metode Imkanur Rukyat

Metode ini menentukan syarat terjadinya bulan baru selain setelah terjadinya Konjungsi sebelum maghrib, juga mensyaratkan ketinggian hilal di atas 2 derajat. Termasuk syarat keterlihatan bulan. Jadi walaupun tinggi hilal sudah berada di atas 2 derajat, tetapi bulan belum juga dapat dilihat mungkin karena kondisi cuaca, maka bulan baru terjadi keesokan lusanya.

Pada kasus Idhul Adha tahun ini mari kita tinjau kasusnya satu persatu.

Di Indonesia Ijtima’/konjungsi terjadi pada sabtu 11 Agustus 2018 pukul 17.32 wib. Sehingga ketika sunset ketinggian Hilal masih negatif. Karena itu menurut metode wujudul Hilal atau imkanur Rukyat tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada lusanya yaitu Senin 13 Agustus 2018. Akibatnya Hari Raya Idul Adha jatuh pada Hari Rabu 22 Agustus 2018.

Sementara di Arab Saudi konjungsi terjadi pada sabtu 11 Agustus puku 13.32 waktu setempat. (Antara Indonesia dengan Arab terjadi perbedaan waktu 4 jam). Sehingga ketika masuk waktu maghrib di sana, ketinggian Hilal sudah di atas 2 derajat. Karenanya baik secara hisab ataupun rukyat dapat dipastikan bahwa keesokan harinya yaitu Minggu 12 Agustus 2018 bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijjah 1439 H. Akibatnya Hari Raya Idul Adha jatuh pada Selasa 21 Agustus 2018.

Kesimpulan dari kasus Idul Adha ini, bahwa penetapan waktu pada suatu daerah tidak dapat diterapkan secara sama terhadap daerah lain.  

22 tanggapan untuk “Menentukan Awal Bulan (New Moon)

  • Agustus 20, 2018 pada 3:49 am
    Permalink

    Jadi kita lebaran hari apa nih…aku sih ikut kata pemerintah aja. Biar adem

    Balas
  • Agustus 21, 2018 pada 3:18 am
    Permalink

    Iya nih, ada perbedaan waktu hari raya. Tapi semoga hal ini bukanlah masalah yang perlu diperdebatkan karena perbedaan waktu masing-masing daerah berbeda-beda sesuai dengan metode penentuan bulan baru di atas. Termasuk juga jangan dijadikan perdebatan mengapa ada sebagian muslim di Indonesia berpuasa sat hari raya di Makkah.

    Balas
    • Agustus 21, 2018 pada 4:45 am
      Permalink

      Iya. Kita punya ulama. Lebih baik tanyalah kepada yang lebih kompeten. Tanyalah ahlinya apabila kita tidak mengetahui

      Balas
  • Agustus 21, 2018 pada 3:33 am
    Permalink

    Aku sih lebaran ikut pemerintah aja…
    Yang kayak-kayak gini suka membingungkan,

    Balas
  • Agustus 21, 2018 pada 4:08 am
    Permalink

    Semoga saja ke depan atau tahun depan, untuk penentuan hari Arofah dan Idul Adha bersamaan dengan hari sebenarnya meski beda 4 jam.

    Balas
    • Agustus 21, 2018 pada 4:50 am
      Permalink

      Gak bisa disamakan karena daerahnya juga berbeda. Seperti waktu shalat antara Batam dengan Jakarta gak bisa disamain. Tapi seringnya Idhul Adha antara Indonesia dengan Arab Saudi berbarengan karena selisih 4 jam. Tapi tahun ini kita berselisih 20 Jam

      Balas
  • Agustus 21, 2018 pada 9:21 am
    Permalink

    klo menentukan bulan baru aja metodenya ada bedabeda, jd bisa aja ada perbedaan dalam hasilnya. ikuti aja apa yg diyakini, selama menentukannya dari ketiga metode tsb.

    Balas
  • Agustus 21, 2018 pada 9:37 am
    Permalink

    Insya Allah ikut Lebaran besok, semoga berkah ya makasih tulisannya mas..

    Balas
  • Agustus 23, 2018 pada 1:42 am
    Permalink

    Aku tahunya cuma yang hilal doang… soalnya yang banyak di publish itu…

    Balas
    • Agustus 23, 2018 pada 10:46 am
      Permalink

      yang penting adalah Ijtimak. yaitu ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis lurus. Pada bulan-bulan tertentu bisa terjadi gerhana matahari (total). Itulah batas bulan hijriah. Sorenya kita teropong apakah bulan itu terlihat atau tidak. Hilal itu dalam bahasa Inggris di sebut New Mooon

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas