Lewat ke baris perkakas

Tasawuf

Pada pembahasan hadits Jibril, telah disebutkan bahwa Rukun Agama itu ada tiga. Yaitu: Iman, Islam dan Ihsan. Iman berkaitan dengan pikiran dan keyakinan. Islam berkaitan dengan fisik. Sedangkan Ihsan berkaitan dengan jiwa.

Untuk memperdalam Iman pelajarilah Tauhid. Untuk memperdalam Islam pelajarilah Fiqh. Sedangkan untuk memperdalam Ihsan pelajarilah Tasawuf.

Akan tetapi kata Tasawuf masih mendapat resistensi dari segolongan ummat Islam. Mereka menganggap Tasawuf adalah ajaran yang menyusup ke dalam ajaran Islam. Karena mereka tidak menemukan bibit dan cikal bakal ajaran Tasawuf ini dari kehidupan Kanjeng Nabi SAW, para sahabatnya yang mulia, juga para Tabiin dan Tabi’it-Tabiin. Mereka menganggap bahwa justru ajaran Tasawuf ini diperoleh dari kependetaan Nasrani, kebrahmanaan Hindu, maupun kezuhudan model agama Budha.

Di sisi lain ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa Tasawuf berasal dari Yunani karena kata Tasawuf berasal dari kata ‘Sopia’ atau kebijaksanaan. Sehingga mereka mempersamakan antara Tasawuf dengan Filsafat, sementara mereka mengharamkan Filsafat karena tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Ada juga pendapat mereka yang menganggap Tasawuf adalah ajaran yang bersumber dari kezuhudan, kemudian tokoh-tokohnya memasukan tarian dan nyanyian kedalamnya sehingga orang-orang yang cinta dunia tertarik karena melihat gaya hidup yang suka bersenang-senang dan bermain mereka pada diri mereka.

Ada juga diantara mereka yang menganggap bahwa Tasawuf bertentangan dengan Aqidah Islamiyah. Menurut mereka bahwa dengan mempelajari Tasawuf, maka seseorang akan memperoleh Kasyf atau menurut pengertian mereka mampu meneropong alam ghaib. Padahal (masih menurut argumentasi mereka) hanya Allah saja yang mengetahui alam ghaib sehingga kasyf itu hanyalah khayalan para sufi semata.

Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa Tasawuf merupakan ajaran Bid’ah. Karena mengerjakan ibadah-ibadah yang tidak diperintah dalam Al Quran dan Sunnah maupun dicontohkan oleh Nabi SAW.

Akan tetapi apakah klaim-klaim ini dapat diterima?

Kita perlu berangkat dari definisi apa itu Tasawuf

Banyak sekali definisi tentang Tasawuf yang didefinisikan oleh Ulama. Namu demikian definisi-definisi tersebut tidak saling bertentangan namun justru saling menguatkan.

Berikut adalah beberapa definisi Tasawuf  yang kami pilihkan.

Menurut Syaikh Ibnu Ajiba, Tasawuf adalah Ilmu yang dipelajari seseorang agar dapat berlaku sesuai kehendak Allah dengan melakukan pembersihan hati (Tazkiyatun Nafs/Takhali) dan membuatnya ridha dengan dengan perbuatan-perbuatan baik (Tahali). Jadi tasawuf awalnya adalah pengetahuan, pertengahannya adalah perbuatan, dan ujungnya adalah taqwa dan ridha Allah.

 

Sedangkan menurut Syaikh Al Haddad, Tasawuf adalah menghidarkan diri dari ahklak yang buruk dan melakukan akhlak yang baik.

 

Definisi Tasawuf yang disampaikan oleh Syaikh Ibnu Sarraj adalah ilmu tentang bathin, yaitu yang membicarakan tentang pekerjaan-pekerjaan hati.

 

Sementara Syaikh Zainuddin Al Malibary dalam syairnya menyebutkan

Sesungguhnya Tasawuf seluruhnya adalah budi pekerti

Dan dari kitab Ma’arif (Awaariful Ma’arif karya Imam As Suhrawardi), maka tuntutkah dan berpegang teguhlah.

Sebab tidak ada petunjuk atas jalan menuju Tuhan

Kecuali dengan mengikuti Rasulullah saw yang sempurna.

 

Syaikh Zakaria al-Anshari menggambarkan tasawuf sebagai, “ilmu yang mendalami hal ikhwal pembersihan hati, perbaikan budi pekerti serta pembangunan lahir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan abadi.”

Dari berbagai definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Tasawuf merupakan suatu upaya pembersihan hati dari kotoran-kotoran materi akibat cinta yang berlebihan terhadap harta, jabatan, kedudukan, popularitas, makan, minum dan syahwat serta kesenangan yang menggiurkan lainnya tetapi sementara. Dasarnya adalah keinginan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan mengikuti jejak Rasulullah SAW yang sempurna.

 

Dengan pengertian ini, tentu Tasawuf bukanlah bid’ah yang diada-adakan. Karena seperti yang disebutkan oleh Syaikh Zainuddin Al Malibary, bahwa tidak ada petunjuk jalan menuju Allah kecuali dengan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.

 

Atas dasar inilah maka dengan sendirinya, tertolak semua ajaran “Tasawuf” yang tidak berdasarkan kepada Al Quran dan Sunnah serta tidak mengikuti jalan Rasulullah SAW.

 

Memang benar bahwa tidak ada istilah Tasawuf pada masa Nabi dan Sahabat, karena Tasawuf sebagai sebuah ilmu, (sebagaimana ilmu-ilmu yang lain) baru dilembagakan pada masa Tabi’it Tabiin. Hal ini karena pada masa Nabi dan Sahabat, para sahabat adalah seorang Sufi yang  sejati. Karena hakikatnya mereka telah hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi telah hidup untuk Allah dan Rasul-Nya.

 

Berikut beberapa  contoh kehidupan sufi yang dicontohkan Rasulullah saw dan para Sahabatnya

 

  1. Ketika menyambangi kamar Nabi, Umar bin Khatab hanya mendapati tiga lembar kulit binatang yang telah disamak, dan sedikit gandum di sudut kamar itu. Maka Umar menangis

Lalu Rasulullah bertanya, “Mengapa enkau menangis?”

Kemudian jawab Umar, ”wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis? Aku melihat tanda tikar dipunggungmu yang mulia dan aku merasa prihatin melihat kamar ini. Ya Rasulullah berdoalah semoga Allah mengaruniakan kepadamu bekal yang lebih banyak. Orang-orang Persia dan Romawi yang tak beragama dan tidak menyembah Allah, tetapi raja mereka hidup dengan mewah. Mereka hidup taman yang tengahnya mengalir sungai. Sedangkan engkau adalah Rasulullah, tetapi engkau justru hidup dalam keadaan miskin.

Saat itu Rasulullah yang sedang bersandar di bantalnya segera bangkit lalu bersabda, ”Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu dengan hal ini. Dengarlah! Kehidupan di alam akhirat nanti jauh lebih baik dari pada kesenangan hidup dan dan kemewahan dunia ini. Jika orang-orang kafir itu memperoleh kemewahan di dunia ini, maka kitapun akan memperolehnya di akhirat nanti. Di sanalah kita akan mendapatkan segala-galanya

 

  1. Ketika telah diangkat menjadi khalifah, istri Abu Bakar Ash Shidiq ra menginginkan manisan.

Jawab Abu Bakar, “aku tidak punya uang untuk membelinya.

Kemudian istrinya pun berkata, “kalau engkau setuju aku akan menyisihkan sedikit dari uang belanja setiap hari. Sehingga beberapa hari kemudian akan cukup terkumpul.”

Abu Bakar pun menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian, istrinya menyerahkan uang yang telah terkumpul itu.

Maka Abu Bakarpun berkata, “dari pengalaman ini aku mengetahui bahwa kita mendapat gaji yang berlebih dari Kas Negara.”

Karenanya uang yang dikumpulkan istrinya itu dikembalikan ke Kas Negara, lalu kemudian Abu Bakar mengurangi gajinya sebanyak yang dikumpulkan istrinya setiap hari.

 

  1. Hudzaifah Al Yaman ra pernah shalat lail di belakang Rasulullah. Dalam shalatnya tersebut, beliau Yang Mulia membaca 4 surat dalam 4 rakaat. Yaitu dari Al Baqarah sampai Al Maidah

 

  1. Apabilah Abdullah bin Zubair mengerjakan shalat, maka dia bagaikan kayu yang tertancap di bumi.

 

  1. Umar bin Khatab bercerita, “setiap saat Abu Bakar selalu membelanjakan hartanya di jalan Allah lebih dari apa yang aku belanjakan. Aku berharap atas karunian Allah, kali ini aku akan membelanjakan hartaku lebih banyak dari Abu Bakar. Segala yang ada di aku ambil separuhnya, lalu aku serahkan kepada Rasulullah.”

Lalu Rasulullah bertanya, “Apakah ada yang engkau tinggalkan kepada keluargamu wahai, Umar?

Jawabku, “aku telah meninggalkan setengahnya.”

Tak lama kemudian datang Abu Bakar dengan seluruh hartanya.

Lalu Rasulullah bertanya, “Apakah ada yang engkau tinggalkan kepada keluargamu wahai, Abu Bakar?

Jawab Abu Bakar, “Aku meninggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.”

Sejak itu aku mengetahui bahwa sekali pun aku tidak akan mengungguli Abu Bakar.

Wallahu ‘alam bi shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *