Tengku Muhammad Chik Pante Kulu

Namanya adalah Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu. Lahir di Desa Pante Kulu, Titeu, Pidie, Aceh pada tahun 1836 M/1252 H. Beliau belajar Islam di Dayah Tiro kepada Teungku Chik Haji Muhammad Amin. Kemungkinan besar di sinilah beliau berkenalan dengan sahabat kentalnya Muhammad Saman yang kelak dikenal dengan sebutan Teungku Chik di Tiro.

Teungku Chik Haji Muhammad Pante Kulu semestinya adalah seorang sastrawan yang menyejarah. Perlu juga di angkat sebagai Pahlawan Nasional (apa pemerintah berani?). Karena syairnya, Hikayat Perang Sabil telah menjadi pembakar semangat Jihad pada perang Sabil di Aceh.

 

Hikayat Perang Sabil, digubah oleh Teungku Chik Muhammad Pante Kulu dalam perjalannan dari Jeddah ke Aceh. Puisi ini terdiri dari 4 bagian yaitu: Kisah ‘Ainul Mardiyah, Kisah Pasukan Gajah, Kisah Said Salmy dan Kisah Budak Mati Hidup Kembali.

 

Sesampainya di Aceh, kemudian dipersembahkannya puisi ini kepada sahabatnya Muhammad Saman Teungku Chik di Tiro yang sedang memimpin Perang Sabil melawan Belanda.

 

Pembacaan Hikayat Perang Sabil ini menjadi ritual wajib bagi para Mujahid Aceh sebelum berangkat perang melawan Belanda.

 

Karena itulah ghirah menjadi terbakar, keberanian terlecut, dan semangat membuncah dalam dada Mujahid Aceh. Seperti digambarkan oleh Taufik Ismail dalam syairnya berikut:

Nampakkah olehmu puisi itu?

Diserahkan kepada Teungku Chik Ditiro

Di sebuah desa di dekat Sigli 

Dan puisi itu berubah menjadi sejuta Rencong…

 

Terdengarkah olehmu? 

Merdunya Al Furqan dinyanyikan

Kemudian puisi perang sabi dibacakan

Yang mendidih darah memanggang udara

Menjelang setiap pasukan terlibat pertempuran

Mengibarkan Panji fi-sabilillah…

 

Hamba menulis puisi juga

Tapi betapa kurus puisi hamba 

Kurang sikap ikhlas hamba

Banyak ria dan ingin tepuk tangan…

Apalah artinya dibandingkan puisi Perang sabi Muhammad Pante Kulu …

 

Allah, berkahi penyair abad sembilan belas ini

Beri dia firdaus seluas langit bumi…

 

Berikut ini adalah syair Lagu Prang Sabi yang terinspirasi dari Puisi Hikayat Perang Sabil Teungku Chik Pante Kulu  (terima kasih kepada Sahabat RH Fitriyadi yang telah menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia)

 

Subhanallah wahdahu wa bi hamdihi

Khalikul badri wallaili Azza wajallah.

Ulön pujoe pòe sidroe po syukur keu rabbi yaa aini.

Keu Kamoe Neubri beu suci Aceh Mulia.

 

Subhanallah wahdahu wabihamdihi

Khalikul badri wallaili Azza wajallah.

Kami memuja Satu-satunya pemilik

Dan bersyukur ke Rabbi.

Untuk kami berikanlah suci Aceh Mulia.

 

Tajak prang musöh beuruntoeh dum sitre Nabi.

Yang meu ungki keu Rabbi keu poe yang Esa. 

Meusö han tèm prang cit malang ceulaka tubh rugö roh.

Syuruga tan roh rugo roh bala Neurka.

 

Kita berangkat memerangi musuh agar hancur selayak perang nabi.

Kita berharap kepada Rabbi pemilik yang Esa.

Siapa saja yang menolak berperang, benar-benar kemalangan celaka tubuh dan jiwa.

Tidak akan dimasukkan ke dalam syurga bahkan diberikan bala neraka.

 

Meusoe yang tem prang cit meunang meutuah tuböh.

Syuruga Lusòh yg that röh Geubri keu gata.

Lindung gata seugala yang Mujahidn Mursalin.

Tiep-tiep mukim iklim Aceh Sumatra.

 

Siapa saja yang bersedia berperang memanglah beruntung tubuhnya.

Syurga yang paling baik diberikan kepada kita.

Perlindungan untuk anda semua wahai Mujahidin Mursalin.

Tiap-tiap wilayah dalam Aceh Sumatra.

 

Yang Meubahgia seujahtra syahid dalam prang.

Allah Neupulang Dendayang Budiadari.

Hoka siwa sirawa syahid dlm prang dan meunang.

Di peurab rijang bak Cutbang salèem Lée Neubri.

 

Yang sangat membahagiakan dan sejahtera adalah syahid dalam perang.

Allah memulangkan bidadari dan dayang ke bumi.

Ketika jiwa syahid dalam perang dan menang,

Didekatkan segera (para bidadari)  kepada kakanda sayang

 

Salam a’laikom- a’laikom  Tgk Meutuah.

Katröh Neulangkh ya Allah Keunoe bak Kamöe.

Amanah Nabi lah Nabi hana Neu ubah-2.

Syuruga Indah ya Allah pahlwn Prang sabi.

 

Salamualaikum tuan-tuan yang beruntung hidupnya.

Sudah sampai anda sekalian melangkah karena Allah

Ke sini untuk berjumpa dengan kami.

Amanah nabi tidak pernah berubah.

Syurga indahnya Allah untuk pahlawan perang sabil.

 

Ureung binöe lah Binöe geumøe meu kiaaam.

Aneuk jak lam prang peutimang amanah Nabi. 

Meubek tataköet tasuröet aneuk seunapan bangsawan.

Aneuk meuriam ya Allah atra sipai.

 

Para perempuan menangis karena perpisahan dengan anaknya

Yang berangkat untuk berperang karena amanah nabi.

Janganlah takut dan surut akan peluru kaum bangsawan.

Peluru meriam -ya Allah- milik sang musuh.

 

Ureung yg syahd lahsyahd bek ta kheun matée.

Beuthat beu tanlée ya Allah nyawöeng lam badan.

Ban sarée keunöng lahkeunöng senjt kafe lahkafe.

Keu nan teuka lée ya Allah peumud seudang.

 

Orang yang syahid dalam perang jangan kita katakan mati.

Walau tidak ada lagi -ya Allah- nyawa dalam badan.

Ketika serempak terkena senjata kafir,

Sudah menjadi takdirnya Allah para pemuda pemberani

 

Budiadari meunanti di döeng di pandang.

Dipréeh CutAbang jak meucang dlm prang sabi.

Hoka judöe rakn eoe syahd dlm prang dan seunang.

Dipeurab rijang peutaméeng syurga tinggi.

 

Bidadari menanti, memandang dengan harap-harap cemas.

Menunggu kakanda sayang menyerang musuh dalam perang sabil.

Ketika tiba masa sang pemuda syahid dalam perang dan senang,

Didekatkan segera sang syahid dimasukkan dalam syurga yang tinggi.

 

Dimat kipah lahkipah saböh bak jaröe.

Dipréeh judöe wöe ya Allah dlm prang sabi.

Geucok disinan disinn geuba u-dalam u-dalam.

Di peuduek sajan ya Allah ateuh kurusi.

 

Mereka menanti jodohnya pulang dalam perang sabil

Setiba di syurga dihantarkan sang jiwa masuk kebagian dalam.

Didudukkan di dekat Allah di atas kursi.

 

Ngon ija putéeh lahputéeh Geusampöh darah lahdarah.

Ngon ija mirah lahmirah Geusampöh gaki.

Rupa Geuh putéeh lahputéeh sang2 buléen trang di awan.

Watée tapandang ya Allah seunang lan hatée.

 

Dengan kain putih di basuh darah,

dengan kain merah di basuh kaki.

Rupa syahid putih selayak bulan terang di awan.

ketika kita memandangya Allah senang di dalam dada.

 

Darah yang hanyi lahhanyi gadöh di badan.

Geu ubah lée Tuhan ya Allah dg kasturi.

Dikamöe Aceh lahAceh darah peujuang peu-juang.

Neubri beurijang ya Allah Aceh Merdeka.

 

Darah yang amis hilang di badan,

di ganti oleh Allah dengan kesturi.

Kamilah Aceh ya Aceh, darah pejuang

Berikanlah segera -ya Allah Aceh- Merdeka

6 tanggapan untuk “Tengku Muhammad Chik Pante Kulu

  • Agustus 4, 2019 pada 9:36 pm
    Permalink

    Masya Allah, indah dan gagah ya puisinya, jadi penyemangat untuk berjuang di jalan Allah terima kasih ya artikelnya..

    Balas
  • Agustus 5, 2019 pada 7:02 am
    Permalink

    Wah….. Keren bang….

    Baru tahu saya ceritanya…. Ternyata ada perang sabil ya

    Balas
  • Agustus 5, 2019 pada 8:18 am
    Permalink

    Hikayat Perang sabil ini kalo diangkat jadi film kayaknya bagus sekali yah. kapan yah, mau difilmkan agar lebih banyak yang tahu ruh dari hikayat ini dulunya dibuat

    Balas
  • Agustus 5, 2019 pada 8:28 am
    Permalink

    Ada banyaak sekali para pahlawan yang sebenarnya tidak masuk dalam sejarah. Disitu kadang saya berfikir, seberapa besar ketabahan para anak cucunya para pahlawan yang namanya tidak tercantum dalam sejarah

    Balas
  • Agustus 5, 2019 pada 8:58 am
    Permalink

    Syairnya bagus sekali. Ini membuktikan bahwa literasi adalah peradaban yang sangat tua. Sudah ada sejak para zaman penjajahan.

    Balas
  • Agustus 5, 2019 pada 1:01 pm
    Permalink

    Masyaa Allah, banyak keteladanan yang bisa kita ambil dari orang-orang terdahulu, terutama orientasi perjuangan mereka. Yang dituju bukan dunia, tapi keridhoan Tuhannya. Sehingga ghiroh juangnya tak perlu ditanya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas