Thanos, Peak Oil Theory dan Kedaulatan Bangsa

Dalam film Avengers: Infinity War diceritakan tentang Mad Titan Thanos yang berniat untuk melenyapkan separuh populasi dunia. Hal ini menurutnya untuk menyeimbangkan kehidupan. Dengan populasi kehidupan yang besar dan sumber daya alam yang terbatas maka kehidupan yang sengsaralah yang diperoleh. Kelaparan, kemiskinan dan kebutuhkan yang tidak dapat dipenuhi adalah dampak atau akibat yang didapatkan oleh tingginya populasi. Karenanya setengah populasi harus dikurangi. Dan untuk memperolehnya itu Thanos mengumpulkan 6 buah Infinity Stone. Berharap dengan terkumpulnya keenam batu tersebut, sekali Thanos menjentikan jarinya maka setengah populasi dunia akan berkurang.

Sesungguhnya pemikiran Thanos ini bukanlah pemikiran yang baru. Dahulu kala ketika kita berada di bangku sekolah sering disebutkan tentang dampak dari ledakan penduduk. Di sana disebutkan bahwa ledakan penduduk yang tinggi tanpa diimbangi dengan perkembangan kapasitas ekonomi yang memadai akan mengakibatkan menurunnya kesejahteraan masyarakat suatu negara. Maka kita diajarkan mengatasi ledakan penduduk adalah dengan cara membatasi angka kelahiran seperti menunda usia pernikahan dan keluarga berencana.

LC Smith dalam The World in 2050, Four Forces Shaping Civilzation’s Northern Future(2011),  menyebutkan memang telah terjadi ledakan penduduk. Pada tahun 2017 ia meramalkan jumlah penduduk dunia adalah 8 milyar jiwa.

Sedangkan Geofisikawan Amerika M King Hubert mencetuskan teori yang dikenal sebagai Peak Oil TheoryPeak Oil Theory atau Hubert Peak Theory  adalah teori yang menyebutkan tentang ketersediaan minyak bumi pada masa depan. Menurut data dari British Petroleum tahun 2014 menyebutkan bahwa konsumsi energi akan naik sampai 41% pada tahun 2035. Dan diperkirakan sumber energi fosil  dunia akan habis pada tahun 2056.

Turunnya produksi dan ketersediaan minyak bumi diiringi dengan ledakan populasi yang tak terkendali, akan mengubah secara drastis gaya hidup dan model bisnis. Tentu ini akan mengakibatkan krisis ekonomi, depresi ekonomi dan persaingan global. Tentu saja kejahatan akan meningkat

Tingginya tingkat kejahatan tidak saja kejahatan dalam skala lokal tetapi juga skala global. Suhu geopolitik akan meningkat dimana negara-negara pada ekuator yang menyimpan kandungan kekayaan alam menjadi rebutan.

Sebelum konflik energi di daerah Timur Tengah (Arab Spring) dan Afrika berakhir, mereka telah mengarahkan moncongnya ke negara-negara ekuator seperti Indonesia.

Langkah-langkah Genosida yang mereka lakukan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Penyalahgunaan Narkoba

Membombardir generasi muda dengan penyalahgunaan Narkotika dan Obat-obatan terlarang. Indonesia adalah Negara yang darurat Narkoba. Data dari UI dan BNN menyebutkan bahwa tahun 2014, sebanyak  4 juta jiwa yang telah menyalahgunakan narkoba. Dengan rentang usia antara 10 sampai 59 tahun. Sedangkan dua tahun kemudian yang mati akibat narkoba menjadi 5,1 juta jiwa pertahun. Ini adalah angka yang harus diwaspadai.

Tentu kita ingat untuk menaklukan Cina pada abad 19, Inggris menyelundupkan candu   dari India. Akibatnya lepaslah Hongkong dan Taiwan dari Cina. Maraknya penyelundupan Narkoba di Indonesia adalah hal yang patut diwaspadai sebagai usaha-usaha melemahkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penyebaran Penyakit

Menyebarkan Penyakit Menular Seksual dan HIV AIDS melalui kehidupan malam yang bebas. Bahkan sekarang penyebaran penyakit ini juga telah memasuki tahap selanjutnya dimana ODHA bukan hanya dari kalangan penganut seks bebas melainkan juga telah menulari orang baik-baik.

Propaganda yang gencar agar masyarakat bersikap permisif bagi pelaku liwath dan menularkannya kepada masyarakat. Propaganda ini bisa melalui saluran televisi, film, game,  komik , iklan-iklan aplikasi ataupun diskusi-diskusi pemikiran. Bahkan sekarang ada juga partai politik yang mengakomodasi kepentingan generasi kolek (manis tapi ada pisangnya) ini.

Terorisme

Gerakan Terorisme adalah juga salah satu cara untuk merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mempertentangkan hukum konstitusi UUD 1945 dan Pancasila dengan ajaran Islam merupakan bahaya laten yang berdampak kepada dua sisi.

Dari sisi kalangan Islam yang percaya bahwa NKRI dan Pancasila tidak sesuai dengan ajaran Islam akan menyebabkan mereka akan berhadapan dengan saudaranya sendiri. Dalam tingkat ekstrim akan menjauhkan Islam dari masyarakat dan berdampak bagi gerakan-gerakan dakwah Islam lain yang bergerak secara konstitusional. Bagi dunia pergerakan dakwah Islam, gerakan yang mempertentangkan antara Islam dan NKRI adalah gerakan kemarin sore dan buta sejarah.

Dari sisi Pancasilais yang percaya bahwa Islam tidak menjiwai NKRI maka akan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan kepribadian dan jati diri bangsa. Disamping itu ketidakberpihakan mereka kepada umat Islam akan menimbulkan benih ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah. Hal ini adalah karena rasa keadilan yang terusik.

Islam dan Bangsa Indonesia adalah dua buah entitas yang tidak dapat dipisahkan. Dari sisi budaya, ajaran Islam telah mendarah daging di masyarakat. Slogan Adat basandi syara, syara basandi Kitabullah adalah salah satu slogan yang menunjukan hal itu.

Perjuangan dan semangat Jihad para ulama dan santri dalam mengusir Penjajah di berbagai daerah menunjukan kontribusi umat Islam yang besar dalam meraih kemerdekaan yang penuh berkah dan rahmat Allah.

Karenannya menyelesaikan bahaya latent terorisme dengan tindakan represif merupakan tindakan yang paling akhir yang harus dilakukan setelah sebelumnya memberikan pembinaan yang berkesinambungan.

Tsunami Budaya

Pintu dari semua itu adalah tsunami budaya yang menerjang dari Barat dan Timur yang tidak sesuai dengan kepribadian Bangsa Indonesia. Hal ini ditunjang oleh revolusi Industri ke-empat yang memudahkan jaringan komunikasi global. Generasi muda dan sebagian generasi tua sedikit banyak sudah kurang memahami budaya leluhurnya  yang tinggi kandungan filosofisnya. Kita lebih bangga teori-teori yang dijejalkan oleh ilmu pengetahuan barat, dibandingkan dengan ajaran-ajaran nenek moyang yang adiluhung.

Dampak dari semua itu adalah kurang bangganya kita terhadap kekayaan khasanah nusantara, dan malunya kita menjadi orang Indonesia. Hal yang berbahaya dari semua ini adalah munculnya generasi global citizenship yaitu warga negara Indonesia yang tidak memiliki rasa nasionalisme sedikitpun. Mereka yang secara fakta dan hukumnya adalah warga negara Indonesia akan tetapi tidak segan-segan untuk mengeruk kekayaan dari Indonesia ke luar negeri. Bahkan tidak segan-segan ketika mereka menjabat menjual asset negara ke negara lain.

Tujuh puluh empat tahun Indonesia telah diproklamasikan tentu seharusnya menjadikan Negara ini makin dewasa dalam menghadapi pahit manisnya kehidupan bernegara. Semestinya kita semakin bergandengan tangan untuk menghadapi semua itu. Dengan membuka kembali sejarah perjuangan bangsa ini, seraya memahami keinginan-keinginan para pendiri bangsa.

Tujuh puluh empat tahun Indonesia telah diproklamasikan, tentu semakin erat kita berjabat tangan untuk membangun bangsa ini agar semakin maju, adil dan makmur.

Jangan pernah mengeluhkan keadaan, karena keadaan yang tidak sesuai harapan adalah cara Tuhan untuk menyuruh kita berjuang untuk membuat kita lebih baik di masa datang.

Kehidupan yang kita jalani adalah sepenuhnya tanggungjawab kita, bukan salah orang lain seperti pemerintah apalagi Dian Sastro.

Itulah yang mungkin bisa kita pelajari dari Film Avenger Infinity Wars. Sementara  pelajaran dari Film Avenger: End Game, kita tunggu aksi dari Lebah Ganteng atau Pein Akatsuki.

6 tanggapan untuk “Thanos, Peak Oil Theory dan Kedaulatan Bangsa

  • Agustus 1, 2019 pada 9:59 am
    Permalink

    Sebelum film thanos ini, sebenarnya ada banyak juga film yang punya pandangan serupa kalau manusia adalah virus yang perlahan merusak bumi dst..dst…

    Balas
    • Agustus 1, 2019 pada 2:52 pm
      Permalink

      Iya. Isue ini bukan isue yang baru

      Balas
      • Agustus 4, 2019 pada 4:30 pm
        Permalink

        Dulu sejak SD sering diajarkan tentang deret hitung atau apa gitu istilahnya dalam menghitung perbandingan tingkat kelahiran dengan jumlah pangan. Beda jauh.

        Balas
  • Agustus 1, 2019 pada 2:34 pm
    Permalink

    Semoga kita menjadi generasi yang optimis ya…..

    Yang bisa membangun indonesia menjadi lebih baik.

    Indonesia kaya, tapi kekayaan semakin habis… Sayangnya karena dinimkati orang lain…

    Balas
      • Agustus 3, 2019 pada 6:46 am
        Permalink

        Seingat saya salah satu bukunya Dan Brown juga membahas tentang pengurangan populasi manusia. Yang jelas sih teori konspirasi begini sudah ada sejak dulu kala ya

        Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas