Tuntunan Islam dalam Menghadapi Hoax

Perkembangan media sosial saat ini telah mendekati kondisi yang sangat memprihatinkan. Ketika perang opini terjadi, dimana opini-opini tersebut terbangun oleh fakta, data dan berita yang mengandung unsur hoax. Tidak jarang juga perbedaan pendapat yang terbangun oleh berita hoax ini menimbulkan pertengkaran diantara teman sendiri. Maka media sosial telah menjadi penyebab permusuhan nomor satu saat ini.

Ini  semua karena informasi yang didapatkan dari media sosial tidak seratus persen valid. Disamping juga disebabkan oleh kemalasan (atau ketidaktahuan) netizen untuk mengecek keabsahan informasi yang tersaji.

Kebanyakan kita membagi informasi tanpa diteliti dahulu kebenarannya. Apalagi jika informasi itu sesuai dengan presepsinya. Maka jari lebih cepat daripada pikirannya. Dan ketika ia diminta konfirmasi terhadap keabsahan berita tersebut, maka ia menjawab: “Mohon maaf! Saya hanya berbagi.”

Sebagian Muslim menganggap dan percaya bahwa berbagi broadcast di media sosial adalah bagian dari jihad media. Mereka memiliki semangat yang tinggi manakala Islam, ulama dan kaum Muslimin menjadi bahan olok-olokan di media sosial. Tentu ini seperti bensin yang disiramkan ke dalam bara keimanan seorang mukmin. Maka bangkitlah umat muslim untuk menjadi terdepan sebagai pembela Islam di Media Sosial.

Tentu ini bagus. Akan tetapi berbahaya. Hal ini dikarenakan tidak semua broadcast yang terlihat ‘membela Islam’ dimaksudkan untuk membela Islam. Akan tetapi ada juga yang memang dipersiapkan justru untuk memfitnah Islam. Dimana broadcast-broadcast ini telah dipersiapkan oleh musuh Islam, kemudian ketika broadcast itu telah massif di media sosial, maka habislah ummat Islam dibully.

Contoh.

Pernah tersebar sebuah broadcast yang mengatasnamakan seorang Ulama. Padahal sang Ulama tersebut sama sekali tidak pernah membuat broadcast yang demikian itu. Akan tetapi fanatik buta dan ketidaktahuan ummat telah menyebarkan broadcast sampai massif. Maka tak lama kemudian muncul broadcast kedua yang mematahkan argument broadcast pertama seraya menghina sang Ulama tersebut habis-habisan.

Dampak berbahaya berita hoax kedua adalah memicu munculnya perpecahan dan adu domba  pada internal ummat. Apalagi bila ditambah dengan perasaan prasangka buruk bahwa saudara-saudara yang tidak menyebarkan berita tersebut dicap sebagai munafik yang tidak peduli dengan agamanya. Tentu ini adalah sebuah tindakan yang cukup memprihatinkan.

Karenanya, menyaring informasi dan menguji validistasnya sebelum berbagi adalah tindakan yang sangat bijaksana. Bahkan sangat dianjurkan oleh Al Quran.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al Hujurat 49: 6)

Walaupun dalam ayat itu disebutkan berita dari orang fasik, tetapi perlu juga kita memeriksa berita dari orang-orang yang shaleh. Hal ini karena ada diantara orang yang shaleh yang ditolak kesaksiannya.

Pernah ada kasus seorang ulama yang sempat menyebar berita hoax dan sempat di bully di media sosial. Tentu kita tidak meragukan akan keshalihan, keikhlasan dan kejujuran beliau. Akan tetapi barangkali beliau khilaf untuk musthalaah khabar tersebut. Semoga Allah mengampuni kami.

Tidak mudah untuk mengecek apakah berita yang akan kita bagi itu benar atau tidak. Dalam Islam perlu ada serangkaian penelitian yang harus dilakukan. Ada ilmu yang dinamakan Musthalaah Hadits.

Ilmu Musthalaah Hadits adalah ilmu tentang metode-metode dan aturan-aturan yang dengannya dapt diketahui keadaan sanad(rangkaian) dan matan(isi) dari segi penerimaan dan penolakannya. Maksudnya Ilmu Musthalaah Hadits adalah ilmu yang mempelajari cara mengukur tingkat keshahihan sebuah Hadist.

Memang Ilmu Musthalaah Hadits digunakan untuk menguji keshahihan sebuah hadits Nabi. Akan tetapi  kaidah-kaidah dalam ilmu ini dapat juga kita gunakan untuk mengecek tingkat kevalidan sebuah berita.

Hal ini karena pengertian Hadits adalah khabar yang datang dari Nabi baik berupa perkataan, perkataan maupan hal yang didiamkan oleh Nabi.

Secara umum tingkat kevalidan tentang hadits Rasulullah ditentukan dengan menguji sanad yang bersambung sampai beliau. Walaupun ada juga sedikit kajian tentang Matan. Sanad adalah orang-orang yang meriwayatkan hadits, sedangkan rangkaiannya disebut Isnad. Tetapi ada juga yang mempersamakan antara Sanad dengan Isnad.

Adapun syarat-syarat sebuah Hadits dapat diterima (shahih) adalah:

  1. Isnadnya bersambung (tidak terputus) sampai ke Nabi. Maksudnya seorang perawi menyampaikannya setelah benar-benar mendengarkannya langsung dari gurunya. Gurunya harus mendengarkannya langsung dari gurunya lagi. Demikian seterusnya sampai Sahabat yang mendengarkannya langsung dari Nabi.
  2. Sanad atau perawinya harus benar-benar tsiqah. Artinya selain jujur juga terpercaya untuk tidak menjalankan perkataan-perkataan atau perbuatan yang hina dan fasik. Pernah Imam Bukhari menolak sebuah Hadits ketika mengetahui salah satu perawinya adalah orang yang suka mempermainkan hewan.
  3. Sanad atau perawinya harus memiliki hafalan yang kuat. Karena hafalan yang lemah akan memengaruhi matan atau isi dari hadits tersebut.
  4. Hadits tersebut tidak Syadz atau bertentangan dengan periwayatan dari jalur lain yang lebih terpercaya, atau bertentangan dengan ayat Al Quran yang muhkam.

Sebagian Ulama ada yang mendhaifkan Hadits Syadz, walaupun secara Sanad sangat shahih. Dan sebagian Ulama ada yang menyikapi hadits syadz ini dengan tetap menganggapnya shahih, tetapi dalam aplikasinya memberikan ta’wil terhadap hadits ini.

Sebuah berita yang kita terima, harus kita coba cek validitasnya. Bersikaplah skeptis. Teliti dari mana sumber beritanya. Jangan langsung membagi berita yang tidak jelas asal usulnya. Termasuk juga berita yang kita peroleh dari suatu portal berita.

Tidak jarang sebuah portal berita, menurunkan berita tanpa keterlibatan wartawannya di TKP. Beberapa portal berita menyajikan berita dengan menulis ulang atau bahkan menyalin tempel sebuah berita dari portal berita lain. Tentu apapun berita yang kita dapatkan dari portal berita abal-abal seperti ini tidak dapat kita terima dan percaya. Dalam ilmu Musthalah Hadits, portal berita ini disebut tidak tsiqah.

Hal yang juga perlu diperkatikan adalah: adanya istilah media mainstream ataupun media anti mainstream. Paradigma yang terbangun di Masyarakat adalah bahwa media mainstream dapat dipercaya (tidak menyebar hoax) sedangkan media anti mainstream tidak dapat dipercaya (penyebar hoax).

Padahal kenyataannya tidak demikian. Tidak semua berita dari media mainstream dapat dipercaya begitupun juga sebaliknya bahwa ada beberapa media anti mainstream yang dapat dipercaya. Bahkan media internasional pun tidak bisa 100% dipercaya.

Contoh kasus sebuah media mainstream belum lama ini. Media tersebut sesungguhnya telah melakukan standar jurnalistik dengan menerjunkan wartawannya kepada sumber berita. Mewawancarainya dan merekamnya. Kebetulan yang diwawancarainya adalah seorang Ulama yang cukup berpengaruh. Namun hasil wawancara tersebut telah dipotong dan disunting sedemikian rupa sesuai dengan kepentingan media tersebut dan bertentangan dengan apa yang dimaksud oleh sang Ulama. Tentu hal ini sangat merugikan sang Ulama. Karenanya sang Ulama melakukan klarifikasi pada media yang beliau miliki.

Tentu kasus ini telah menjatuhkan kredibilitas media mainstream tersebut. Karenanya, media mainstream ini menjadi tidak tsiqah dan berita yang bersumber dari media mainstream ini tidak dapat dijadikan pegangan.

Jelas mengetahui latar belakang pembawa kabar adalah suatu yang mutlak. Kerenanya kita harus benar-benar mengetahui dari mana berita tersebut di ambil.

Oleh sebab itu kita harus mengambil berita dari sumber resmi suatu institusi. Atau bersumber dari sebuah media yang langsung merujuk kepada sumber resmi suatu institusi.

Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah kita harus pastikan bahwa kita mengambil berita dari akun resmi yang asli. Bukan bajakan. Karenanya mengenal sumber berita  secara mendalam sedikit banyak membantu untuk menentukan apakah akun tersebut asli atau tidak.

Itu adalah sedikit cara-cara aplikasi ilmu Musthalaah hadits dalam meneliti berita hoax. Tentu untuk mengecek keabsahan secara lebih mendalam kita perlu mempelajari ilmu tersebut dengan lebih intensif kepada guru atau ustadz yang lebih kompeten.

Satu tips yang mungkin dapat dipegang oleh orang-orang awam seperti kita adalah perkataan Rasul Allah:

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam.

Ustadz Salim A Fillah ketika menjelaskan hadits ini, beliau memberikan kriteria makna khair dalam hadits ini.

Makna khair pada hadits ini menurut beliau adalah:

  1. Benar faktanya
  2. Indah caranya
  3. Tepat waktunya
  4. Bermanfaat bagi orang lain
  5. Berpahala di sisi Allah.

Semoga kita menjadi Muslim sejati yang selamat orang lain dari lisan dan tangannya.

Wallahu Alam.

12 thoughts on “Tuntunan Islam dalam Menghadapi Hoax

  • September 28, 2018 pada 1:07 am
    Permalink

    sepakat berita yang kita terima, harus kita coba cek validitasnya.. soalnya banyak berita horor yang nggak ada kepastian benarnya.. bikin khuatiir yang berlebihan..

    Balas
  • September 28, 2018 pada 4:05 am
    Permalink

    Berita hoax ini sungguh bisa menghancurkan moral pemuda dan masyarakat, apalagi yang tidak berlandaskan iman suka langsung share-share aja tanpa liat sumber validnya. perlu bangat memperhatikan tuntunan islam dalam menghadapi berita hoax ini

    Balas
  • September 29, 2018 pada 12:25 pm
    Permalink

    Tabayyun itu penting. Biar tak salah langkah mengambil keputusan dan keberpihakan.

    Balas
  • September 29, 2018 pada 11:43 pm
    Permalink

    Terima kasih atas tulisannya. Mencerahkan sekali. Saya perlu banget pandangan-pandangan seperti ini agar bisa melihat sejauh mana kesadaran masyarakat tentang berita hoax. Izin share ya untuk grup-grup whatsapp saya yang sering dibanjiri berita hoax.

    Balas
  • Oktober 1, 2018 pada 2:56 am
    Permalink

    Sungguh mudah banget sekarang ini kita termakan yang namanya hoax… bahkan ketika ngingetin itu hoax malah dibilang sok tahu

    Balas
  • Oktober 1, 2018 pada 3:08 am
    Permalink

    Suarat al hujurat ayat 6 itu sangat pentinh juga diimplementasikan oleh blogger supaya ga ngasal juga

    Balas
    • Oktober 1, 2018 pada 6:10 am
      Permalink

      Dalam dunia jurnalistik ada istilah check and re-check termasuk juga istilah cover both side

      Balas
  • Oktober 1, 2018 pada 4:40 am
    Permalink

    Hoaks sebetulnya sudah ada sejak zaman Rasul. Pembawa berita bohong, penipu, pendusta. Sekarang karena zaman makin menggila, makin canggih teknologi, jadi dari kitanya memang harus cerdas juga.

    Balas
    • Oktober 1, 2018 pada 6:08 am
      Permalink

      Hoaks selalu ada bahkan sejak zaman nabi Adam

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas