[Kajian 3 Prinsip Utama] Bagian 3 : Milat Ibrahim adalah Perintah Tauhid dan Larangan Syirik (1)

Matan

Ketahuilah saudaraku semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya

Bahwa Islam yang merupakan tuntunan (Millah) Nabi Ibrahim as yang Hanif, adalah agama yang menyeru manusia agar beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh manusia dan hanya untuk itulah sebenarnya mereka diciptakan sebagaimana firman Allah

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz Dzariaat 56)

Ibadah dalam ayat ini artinya tauhid. Dan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Sedangkan larangan Allah paling besar adalah syirik, yaitu menyembah selain Allah di samping menyembah-Nya.

Firman Allah

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (QS An Nissa 36)

Syarah

Milat Ibrahim adalah perintah tauhid dan larangan syirik

Allah telah mengutus Ibrahim as untuk menghancurkan keberhalaan pada zaman Namruz, sehingga penghambaan semata-mata hanya kepada Allah saja.

Firman Allah

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS Al Mumtahanah 4)

Karena itu Nabi Ibrahim dapat  disebut sebagai Bapak Tauhid.

Naluri Nabi Ibrahim untuk bertuhan begitu sangat kuat. Hal ini karena kita dapati Ibrahim muda yang terus melakukan tafakur dalam mencari tuhannya.

“Dan demikian Kami perlihatkan perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda (keagungan Kami) di langit dan di bumi. Dan agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.

Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: ‘Inilah Tuhanku’. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: ‘Saya tidak suka dengan yang tenggelam’.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku’. Tetapi setelah bulan itu terbenam ia berkata: ‘Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat’.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini lebih besar’, maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan hanif. Dan aku bukanlah orang-orang yang mempersekutukan Tuhan’. (QS Al An’am 75-79)

Ibrahim muda menghadapkan wajahnya ke penjuru alam mencari suatu dzat yang dapat disembahnya dan dapat melindunginya.

Pertama beliau menemukan bintang. Tetapi ketika bintang itu tenggelam, bintang itu tidak jadi disembah-Nya. Bagi Nabi Ibrahim, Tuhan adalah sesuatu yang tidak mempunyai cacat. Maka beliau berpaling kepada yang lebih besar dan lebih perkasa. Yaitu bulan dan kemudian matahari. Akan tetapi keduanya ini pun tidak dapat dijadikan tuhan oleh Nabi Ibrahim. Maka Nabi Ibrahim pun menyerahkan dirinya kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.

Ketika telah menjadikan Allah sebagai Tuhannya, maka Nabi Ibrahim sudah tidak mengenal takut. Dengan berani beliau menentang Namrudz yang mempertuhankan berhala.

Dalam surat Al Anbiya disebutkan

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang lalim”.

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”.

Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.

Nabi Ibrahim adalah teladan Tauhid ketika Allah perintahkan untuk meninggalkan anak dan istrinya di lembah tandus maka beliau melakukannya tanpa perasaan berat.

Nabi Ibrahim adalah teladan Tauhid dengan ketaatan total yang sempurna, ketika datang perintah untuk menyembelih penyejuk pandangan dan permata jantungnya, maka dilaksanakannya dengan ikhlas.

5 thoughts on “[Kajian 3 Prinsip Utama] Bagian 3 : Milat Ibrahim adalah Perintah Tauhid dan Larangan Syirik (1)

  • September 3, 2021 pada 9:09 am
    Permalink

    Pencarian Nabi Ibrahim tentang ketauhidan benar2 luar biasa ya. Beliau adalah teladan yang sempurna untuk ketauhidan dan ketaatan pada Allah SWT.

    Balas
    • September 8, 2021 pada 8:17 pm
      Permalink

      Aku membaca ini auto pengen nyanyi masyod. Belajar dari ibrahim. Belajar taat kepada Allah..

      .. bapak para anbiya’

      Masya Allah selalu dapat charge tiap mampir ke blog ini.

      Rinci tapi mudah dipahami kata,katanya

      Balas
  • September 8, 2021 pada 1:33 pm
    Permalink

    Perjalanan Nabi Ibrahim dalam hal ketauhidan tentu menjadi renungan mendalam bagi kita semua saat ini.

    Balas
  • September 9, 2021 pada 10:10 am
    Permalink

    nabi Ibrahim ini Bapaknya para nabi ya. Melalui beliau lahirlah para nabi dan agama yang dianut orang-orang di dunia sekarang

    Balas
  • September 22, 2021 pada 7:27 am
    Permalink

    celakalah mereka yang menjadikan kisah2 penuh hikmah ini sebagai bahan guyonan. dilakukan di depan seseorag yg ngakunya muslim, tapi dia cuma mesem2 gak punya harga diri.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *